RSS

Arsip Kategori: Ceritaku

Pada Masa Istirahatku (Tulisan Ketinggalan)

1 April 2011

Hari ini tepat 29 tahun hadirku di dunia. Tak ada yang istimewa. Aku masih dalam masa ‘istirahat’ pasca pendarahan yang kualami tanggal 26 maret lalu. Sejauh ini, kondisi flek-flek yang aku alami tak juga membaik bahkan frekuensinya menjadi sering. Aku sendiri sudah lelah dengan istirahat yang berkepanjangan tanpa dapat melakukan sesuatu aktifitas fisik yang berarti. Sangat menyiksa bagi jika sepanjang hari aku harus lebih banyak menghabiskan waktu berbaring di tempat tidur demi menjaga stabilitas ketahanan rahimku. Dasarku yang tak bisa tenang, kadang-kadang aku bandel, mencuri-curi waktu membersihkan kamar mandi atau membereskan rumah ketika suamiku ke kantor. Padahal bergerak berlebihan sangat tidak dianjurkan oleh dokter kandunganku karena itu akan memperparah terjadinya flek. Supaya tidak terlalu membosankan, kusempatkan menulis beberapa paragraf sambil duduk ditopang bantal di punggung atau membaca ulang beberapa novel koleksiku.

Namun yang namanya hidup tanpa pembantu, sesungguhnya aku tak bisa benar-benar beristirahat. Nabila yang baru tiga tahun tentu juga harus kuperhatikan kebutuhannya. Toh aku masih harus mondar-mandir untuk memandikan Nabila, membantunya membersihkan diri sehabis buang air besar atau kecil, membikinkannya susu, dan juga meladeninya bermain atau bercanda. Namun jika kondisiku sedang tidak memungkinkan, aku menyuruhnya bermain sendiri sambil menunggu papanya pulang kantor atau menemaninya menonton kartun di notebook sambil aku tiduran. Tak jarang dia memprotesku. “Mama tuh bangun, sudah siang”, menyuruhku duduk atau berdiri menemaninya bermain. Biasanya aku hanya sanggup meladeninya sebentar karena Nabila lebih suka melakukan permainan-permainan yang bersifat fisik seperti main perang-perangan, kuda-kudaan, atau main bola seperti yang sering dilakukannya dengan papa. Kalau sudah begitu kewalahan begitu, kucoba memberikan pengertian kepadanya dengan bahasa yang sesederhana mungkin bahwa calon adiknya dalam perutku sedang capek ingin tidur. Kukatakan bahwa jam 12 siang nanti papa sudah pulang dan dia boleh bermain sepuasnya dengan papa. Meskipun tidak langsung setuju, tapi jika kutawari menonton Upin Ipin, Aladin, Hello Kitty atau Putri Duyung, Nabila tak menolak.

Untuk urusan dapur dan rumah, aku boleh berlega karena sumiku sangat membantu. Dia sangat mengerti bahwa kondisi kandunganku tidak memungkinkan bagiku untuk menangani pekerjaan angkat-mengangangkat atau berdiri bahkan duduk yang terlalu lama. Jadi, pagi-pagi setelah mandi dan sholat subuh, dia segera mencuci piring dan membereskan dapur. Setelah itu sambil menunggu air di teko mendidih, dia membereskan rumah. Sebegitu air mendidih, segera dia membuat segelas kopi. Cairan hitam kental berkafein itu menjadi minuman wajib baginya dipagi hari. Setelah bersantai sejenak sambil menikmati kopi panasnya, tergantung jadwal mengajar, suamiku membikinkan sarapan.

Tergantung jadwal, jika tak ada kewajiban mengajar di pagi hari, dia membuat sarapan sekaligus makan siang beserta lauknya. Karena oleh dokter aku dilarang mengkonsumsi makanan yang pedas atau merangsang perut, maka biasanya dia membikinkanku menu sederhana yaitu terdiri dari sayur bayam bening dengan lauk tempe. Terus terang, menu ini sangat tidak menggugah selera makan. Namun dikarenakan aku harus benar-benar menjaga menu makananku, dan bayam merupakan sayuran yang banyak mengandung zat besi yang sangat dibutuhkan oleh ibu hamil untuk memenuhi gizi janin dalam rahim, maka aku tak bisa banyak memprotes. Sedangkan Nabila sendiri ternyata sangat menyukai olahan sayur bayam bening hasil masakan papanya. Jika pagi-pagi sekali jam delapan suamiku harus mengajar, maka dia bikinkan sarapan roti bakar dengan isian meses coklat. Diantara menu sarapan, kupasan uah apel fuji yang renyah manis dan dipotong kecil-kecil menjadi penetralisir perutku.

Kalau dihitung-hitung, masa royanku sudah hampir seminggu lebih. Pada awal-awal masa istirahat, papanya Nabila memang agak kesukaran untuk menemukan irama pengaturan jadwal pekerjaan rumah tangga dengan jadwal mengajarnya. Namun kuperhatikan dia cepat  menemukan pola pengaturan yang efisien. Mencuci piring hampir selalu dikerjakannya setiap hari sedangkan untuk mencuci baju dikerjakannya seminggu sekali atau dua kali. Kadang-kadang jika Nabila mau ditinggal bermain sendiri, aku nekat merendam pakaian-pakaian yang kecil dan mencucinya pelan-pelan sekali sambil duduk berselonjor di bangku plastik kecil. Siang ketika suamiku pulang, cucian itu siap untuk dijemurnya. Aku rasa itu cukup membantu mengurangi banyaknya volume cucian yang biasanya hanya dicuci ketika hari minggu. Untuk urusan memasak, suamiku cepat belajar. Hanya sekali saja dia menanyakanku tentang resep beberapa menu yang sering kubuat, lain hari dia sudah bisa mempraktekannya tanpa kembali bertanya. Hanya saja, entah untuk alasan kepraktisan atau untuk menghindari keribetan, dia lebih sering menyajikan menu-menu yang sederhana dalam hal bumbu maupun cara pengolahan.  Itupun sudah sungguh sangat kusyukuri. Malahan aku bangga dan terharu karena sebagai suami, dia tidak gengsi atau malas membantu istrinya dalam hal mengurus pekerjaan rumah tangga sebab sudah kulihat sendiri dalam lingkunganku, tak banyak suami yang mau turun tangan langsung mengambil alih pekerjaan rumah tangga disaat si istri berhalangan mengerjakannya karena sakit atau sesuatu hal lain.

Bersama suami, aku telah mempersiapkan mental kalau-kalau terjadi sesuatu hal dengan kandunganku. Kusatir kalimat klise “Manusia boleh berencana, namun Tuhanlah yang menentukan”.  Kami mempunyai impian indah menimang calon adiknya Nabila. Sebagai ibu, tentulah aku berharap kandunganku akan sehat dan baik-baik saja seperti yang kualami pada kehamilan yang pertama. Namun tak bisa dipungkiri, ada banyak faktor dan resiko yang harus kami pertimbangkan jika saja aku harus beristirahat panjang apalagi kalau harus mondok di rumah sakit. Aku tak hendak mendahului rencana Tuhan, namun apapun yang akan terjadi, aku sudah ikhlas, sudah sakmadyo. Kuanggap apapun yang bakal terjadi sebagai sebuah rencana baik Tuhan untuk kami sekeluarga. Tak ada kecewa.

 

Jambi 1 April 2011

 

 
Leave a comment

Posted by pada April 5, 2011 in Ceritaku

 

KETEMU SI IKAL

Aku sedang duduk di ruang transit penumpang A1 bandara Soekarno-Hatta Jakarta,  keberangkatan menuju ke Jogjakarta ketika kulihat sesosok paras yang sepertinya pernah kulihat di halaman sekilas penulis sebuah novel best seller yang telah difilmkan. Aku mengamat-amati sejenak, mencocokkan semua deskripsi yang pernah kulihat di majalah maupun televisi. Mataku tak lepas mengamati posturnya, rambutnya yang keriting berlindung di balik topi, tahi lalat itu. Jantungku berdegup kencang tatkala sekilas dia membalas tatapanku, ketika akhirnya keraguanku menguap. Ya Tuhan…tak salah lagi, sosok pria bertopi mengenakan kaus berjaket kulit warna tanah dan memakai jeans dan duduk sambil mendengarkan MP4 itu adalah…….ANDREA HIRATA. Waaawwww……..adrenalinku langsung melonjak. Aku tak kuasa menahan raut muka berseri melihat pemandangan fantastis ini. Si Ikal sang pemimpi. Aku gelisah ditempat duduk yang jaraknya kira-kira Cuma 10 langkah dari tempatnya  duduk.  Aku harus mencuri momen untuk mengobrol dengannya. Pesawat ke Jogja baru akan landing 45 menit lagi. Masih ada waktu untuk bercakap-cakap dengannya. Otakku langsung sibuk menyusun  kemungkinan pertanyaan-pertanyaan. ‘Bung Andrea Hirata ya?’, (ah terlalu klise). ‘ Sedang menunggu pesawat ke jogja atau semarang bung ?’, (mmmm….). Duuuhhh aku jadi bingung sendiri. Bagaimana aku haus memulainya?. Kusamperin gak  ya?.  Kulihat Nabila masih terlelap dalam pangkuanku. Tampaknya aku harus membangunkan dia untuk memecah kebekuan ini.  Kucium telinga Nabila sambil membisikkan , ‘Bangun sayang’.  Dengan sedikit malas gadis kecilku membuka matanya sambil menggeliat, tak lama kemudian kesadarannya langsung penuh melihat jejeran pesawat di landasan, tempat duduk kami memang tepat menghadap pintu kaca yang memisahkan ruang tunggu dengan landasan. ‘Pesawaaaattt!!!!’, teriaknya sambil tertawa. ‘Aku tak kuasa menahan geli dan ……ya ampuuun…..rupanya si Ikal juga turut tersenyum mendengar teriakan riang Nabila. Nabila memaksa turun dari pangkuanku dan berlari menghampiri kaca. ‘Mamma, pesawaaattt. Pesawaat tuyuuunnn”,  teriaknya riang. Suaranya terdengar ke penjuru ruang tunggu itu. “Hush….sayaaang…jangan teriak-teriak ya katakuberbisik di telinganya”. Bagaimanapun juga aku tak mau penumpang yang lain terganggu dengan teriakan Nabila yang memang alto banget itu. Sekali lagi aku mencuri pandang ke tempat si Ikal duduk. Great…sekarang dia malah baca koran.

Kutarik Nabila duduk kembali. Dia meronta-ronta. ‘Ya sudah…..mama duduk ya’, kataku. Puas menatap jajaran pesawat yang sedang off, suara-suara anak kecil yang lain rupanya menarik perhatian Nabila. Bocah laki-laki sekitar umur 3 tahun itu bermain tepat di samping tempat duduk Ikal. Ia asyik memainkan miniatur peawat terbang sambil menirukan bunyinya. Dengan percaya diri Nabila berjalan menghampiri bocah laki-laki itu dan………aduuuuhhhh. Dia berhenti tepat di depan Ikal, bagaimana ini?. Nabila memandang Ikal yang sedang membalik halaman korannya, langkah Nabila menjauh perlahan sambil terus mengamati si Keriting. ‘Abang’,  katanya tiba-tiba sambil menunjuk bocah lelaki tersebut. Bocah lelaki tersebut menoleh, Ikal…..astaga…dia juga tersenyum. Ayooo Nabila menjauh dari sana …….runtukku dalam hati. Meskipun aku ingin sekali ngobrol dengan Andrea, tapi aku juga tak mau keasyikannya membaca koran terganggu. Sepersekian detik yang mengejutkan dan tak terduga, tiba-tiba Andrea menutup korannya dan membungkuk ke arah Nabila, ‘Namanya siapa’, tanya Andrea ramah. Eng ing eng…..Nabila langsung balik badan sambil berlari dan meneriakkan Mamma….. ‘Kesempatan’, pikirku.

‘Lho….ditanya oom kok  malah lari kataku

Dengan keberanian yang nekat dan jantung yang berdegup dag dig dug dher, aku mendekati tempat duduk Andrea sambil tersenyum, Nabila langsung memelukku. Andrea tersenyum. Aduuuuuhhhh…..

‘ Oomnya ga jahat kok’, kataku membujuk Nabila.

Aku duduk di sebelah Andrea, ‘Mmmm…….Bung Andrea Hirata ya’, kataku .

Andrea tersenyum. Aduh boi kalau kamu tersenyum begitu kamu semakin tak dapat menyangkal bahwa kamu itu Andrea. Senyum itu, topi baretmu. Sambil masih menyungging senyum, Andrea mengangguk. Aku mengulurkan tangan.

‘Sukma’, aku memperkenalkan diri. ‘Andrea’, balasnya.

‘Mau ke Jogja atau ke semarang nih?’

‘Ke Jogja’

‘Di unadang bedah buku ya?’, tanyaku sok tahu.

‘Ya’. Jawabnya singkat.

‘Hanya sendirian saja?’.

‘Ya’.

‘Ibu sendiri mau kemana?’.

‘Saya juga mau ke Jogja. Kebetulan mau menghadiri acara wisuda suami saya’

‘Oh…wisuda pasca?’

‘Ya, di UGM’, kataku menjelaskan (duh penting ga sih menyebutkan nama perguruan tingginya).

‘Cuma berdua dengan si kecil?’

‘Ya’

Hening sejenak. Nabila sudah mulai melepaskan pelukanku. Bocah lelaki yang tadi masih bermain di sebelah Andrea. Nabila merengsek turun dari gendonganku. Matanya tertarik dengan miniatur pesawat yang dimainkan oleh bocah lelaki tersebut. ‘Abang  @2@gjhsj pesawat’, katanya.

‘Ya abang main pesawat’, kataku.

Aku membiarkannya turun dari pangkuan. Dengan malu-malu kemudian dia mendekati abang.

‘Namanya siapa abang?’, tanyaku.

Ibu si bocah yang kebetulan duduk dua bangku di sebelah bocah tadi tersenyum

‘Reza’, jawab bocah tadi

‘Adik namanya siapa tadi?’, tiba-tiba Andrea ikut nimbrung.

‘Namanya Nabila’, kataku menjawab.

‘Umurnya berapa tahun?’.

‘Dua tahun oom’.

‘Sementara kemudian, Nabila asyik mengoceh ini itu dengan si abang.

‘Aku mengamati kedua bocah itu sambil tersenyum geli.

Sejenak kemudian bagian penerangan agar para penumpang diharapkan untuk segera cek boarding pass karena pesawat akan take off 15 menit lagi. Aku segera bersiap-siap , demikian juga dengan seluruh penumpang jurusan Jogjakarta di ruang tunggu. Kugandeng Nabila mengantri cek boarding pass, tapi melihat kerumunan orang berjejal-jejal mengantri membuatnya sedikit takut dan merengek minta kugendong. Setelah melewati pintu boarding pass, sambil menggendong Nabila di tangan kiri dan menenteng tas di tangan kanan, hatiku berdesir melewati lorong yang menghubungkan ruang tunggu dengan pintu pesawat. Bismillah ……… Jogja we are coming. Tiba di pintu pesawat kami disambut stewardess dengan senyum ramah mengucapkan selamat datang dan menanyakan nomor tempat duduk kami. Aku mengangsurkan tiket, ‘A11…mari bu’ silahkan duduk di sini’, katanya ramah. Ya Tuhan, apakah kamu tahu siapa yang duduk di A12, katakan aku hanya beruntung, atau Tuhan sedang berbaik hati padaku. Tapi tak dapat ku cegah jika si Ikal tengah tersenyum padaku  di  sana. Tak perlu kuceritakan bagaimana groginya aku. Dalam diam kutenanng-tenangkan hatiku supaya tak melonjak kegirangan, kugigit-gigit bibirku supaya tidak mengumbar senyum sendiri. Aku memapankan Nabila dalam pangkuanku. Si Ikal menyapaku dengan senyumnya. Hanya tersenyum, tak sepatah katapun keluar. Alamak!!, itupun sudah cukup. Lima belas menit kemudian pesawat take off, stewardess mengingatkan para penumpang untuk mengencangkan sabuk pengaman. Ketika pesawat akhirnya naik terbang, perutku geli, gugup menyongsong angkasa jogja, dan lebih-lebih karena aku akan menghabiskan 50 menitku bersama maestro ‘Laskar Pelangi’. Pesawat terbang semakin tinggi, tinggi, dan tinggi. Aku khidmad memeluk Nabila sambil menghirup aroma kepalanya. Nabila tenang memelukku, mungkin dia juga grogi, untuk pertama kalinya menyadari naik pesawat.

Kurasakan perutku hampa.

Hanya lamunanku atau apa tiba-tiba kudengar suara Adzan.

Bunyi dering ponsel jelas ga mungkin karena selama penerbangan penumpang dilarang menyalakan ponselnya.

Semakin lama suara adzan itu semakin jelas.

‘Hmmmmm……emangnya sekarang di pesawat ada muadzinnya?’

‘Ma, ma bangun ma, bangun’, seseorang menggoncang-goncang tubuhku.

‘Si Ikalkah?, ……ah yang benar saja, sebegitu pengen ngobrolnya denganku sampai membangunkan aku?.

‘Mamaaaa, bangun ma, sholat subuh’.

Aku tergeragap membuka mata. Lamat-lamat kulihat sosok yang sangat kukenal menepuk-nepuk pipiku lembut.

‘Oh ….mau apa si Ikal ini?, berani-beraninya dia menepuk-nepuk pipiku’, pikirku masih tak sadar.

Dua menit, ya dua menit baru kusadari bahwa sosok yang menepuk-nepuk lembut pipiku tadi ternyata  Astagfirullahaladziiimmmmmmmm………………Papa Nabila Oalaaaahhh. Ternyata aku mimpi.

‘Bangun ma, sudah subuh, ayo sholat berjamaah dulu’, kata Papa sambil berlalu dari kamar. Meninggalkanku yang terduduk termangu mengingat-ingat mimpi tadi. Aku tersenyum sendiri, manis sungguh manis bisa ketemu maestro Laskar Pelangi. Meskipun Cuma mimpi. Mudah-mudahan bisa ketemu beneran suatu saat nanti.

 

(cerita ini hanya fiksi semata, hanya angan-angan penulis. Mohon dimaklumi :) ).

 
5 Comments

Posted by pada November 13, 2010 in Ceritaku

 

Pre Acara : Be A Writer bersama Gol A Gong

Aku tak bisa berleha-leha minggu pagi ini. Jam sembilan nanti ada acara workshop menulis ‘Be A Writer bersama Gol A Gong’ yang bertempat di sekertariat PKS. Meskipun sebenernya hari minggu adalah hari istirahat bersama Nabila, tapi workshop menulis semacam ini memang telah kutunggu-tunggu sejak lama, apalagi yang mengisi workshop adalah salah satu pengarang kebanggaan Indonesia, plus…..biaya pendafatarannya ga terlalu mahal dibandingkan dengan workshop-workshop sejenis yang iklannya sering mampir ke emailku. Jadi, aku sama sekali tak mau melewatkan kesempatan berharga ini, meskipun harus mengorbankan waktu mingguku bersama Nabila dan menitipkannya ke Bu Wati, tetangga sebelahku, tapi aku meneguhkan hati untuk mengikutinya. ‘Kapan lagi mau memulai kalau ga sekarang dan untuk maju memang butuh sedikit pengorbanan’, begitu kata-kata di pikiranku menentramkan hatiku. Dengan semangat 45, kuenyahkan segala malas dan kantukku dengan secangkir kopi AA sebagai doppingku seharian nanti, kukerahkan tenaga ekstra untuk membuat pekerjaan mencuci baju, piring, merebus air, menyiapkan sarapan Nabila, dan merapikan seisi rumah. Tepat pada saat aku menggantung cucian terakhir ketika kudengar suara Nabila yang terbangun dan memanggilku. Aku menghampirinya di pembaringan. Kuresapi dalam-dalam aroma tubuhnya yang membuatku selalu rindu ingin menciumnya. ‘Mama bobok lagi’, rengeknya sambil menarik tanganku ke tempat tidur. ’Sudah pagi sayang, bangun yuk, trus nanti maen ke tempat Tasya ya, mama mau ada acara pagi ini’, kataku lembut membujuknya. ’Ga mau, mau bobok lagi ma’, rengeknya sambil kembali menarik tanganku. Kulongok HP ku yang tergeletak di samping tempat tidur, masih pukul 07.45. masih ada waktu untuk sejenak bermanja-manja dengan Nabila. ’Ya kan sudah pagi cinta, nonton kartun saja yuk, ayo mama gendong’, kataku akhirnya. Dibujuk mau digendong, Nabila tak lagi memprotes, dia segera mengulurkan kedua tangannya. Aku menggangkat tubuhnya sambil mencium pipi chubbynya gemas. Nabila memelukku erat. Aku menggelitik pinggangnya. Nabila terkekek sambil masih tetap memelukku erat, menyembunyikan mukanya di dadaku. Duuuuhh…sebenarnya sedih hatiku harus meninggalkannya seharian nanti. Tapi sekali lagi aku mengingatkan diriku, ’Untuk melangkah maju memang butuh pengorbanan mama, toh acara yang seperti ini tidak setiap minggu ada’.

Pukul 08.45 semuanya sudah kelar, Nabila sudah rapi dan harum, susu, snack, lauk makan ddan sayur sudah kusiapkan dalam satu kotak, siap dibawa serta Nabila selama masa penitipan nanti. Aku menggendong Nabila menuju ke rumah tetangga sebelahku. Ketika kami memasuki pintu pagar, Bu Wati berdiri di depan pintu rumahnya siap menyambut Nabila. ’Aman’, kataku dalam hati. Tiba-tiba Nabila berontak dalam gendonganku, beringsut turun dengan cepat dan berlari belik ke rumah sambil berteriak menangis, ’Aku ga mau maiiinnnn, aku mau di rumah ajaaa!!!!’. Masya Allah….piye to iki, kok malah melarikan diri Nabilanya. Bersama Bu Wati, aku menghampiri Nabila yang masih menangis di depan pintu rumah kami. ’Sayang, mama gak lama kok, mama nanti jemput kakak lagi. Sekarang kakak main ke rumah Bude dulu ya, main sama bang Ilham, Bang Iqbal, Bang Fajri, sama Tasya juga’, bujukku lembut menggendongnya sambil menyebutkan nama-nama putra putri bu Wati. ’Ga mauu, mau ikut mamaaa, mau sama mama ajaaa…..’, rengeknya memeilukan. ’eh mamanya sebentar aja kok, Nabila maen dulu ke tempat bude ya’, bu Wati juga ikut membujuk Nabila. Nabila tetap bersikeras tak mau turun dari gendonganku. Akhirnya kami masuk lagi ke dalam rumah. ’Nah, ya sudah di rumah aja nonton kartun sama Bude ya, ni ada Tasya juga’, bujukku lagi sambil menurunkannya dari gendonganku. Melihat Bu Wati ikut masuk ke dalam rumah bersama Tasya, putri bungsunya yang berumur 2 tahun, tangis Nabila agak mereda. Sejenak kami semua duduk lesehan di ruang keluarga sambil menonton kartun. ’Waduh, acaranya dimulai 10 menit lagi, gimana nih’, pikirku cemas. Akhirnya kuputuskan untuk berpamitan kepada Nabila, semakin lama aku menaminya maka semakin dia tidak mau ditinggal. ’Sayang, mama pergi dulu ya, kakak sama bude ya’, pamitku. Tangis Nabila kembali meledak melihatku beranjak akan pergi. Dengan sigap Bu Wati menggendongnya, Nabila meronta-ronta, di saat yang sama, melihat Nabila menangis, Tasya juga ikut menangis. Dua balita kecil menangis dalam gendongan Bu Wati. Aku yang sudah berada di pintu akan keluar, tak tega akan melangkahkan kakiku kembali masuk ke dalam rumah tapi bu Wati mencegahku. ’Sudah ditinggal aja, paling sebentar aja kok nangisnya. Ga papa’, kata beliau menenangkanku. Akhirnya cepat-cepat kututp pintu dan melarikan supra fitku. Dibelakang sayu-sayup masih kudengar tangisan Nabila. Dalam hati aku berdoa, ’Ya Allah, ampunilah hambamu, jagalah Nabila Ya Allah, tenangkanlah hatinya. Semoga workshop yang kuikuti hari ini dapat membawa manfaat untuk kehidupan kami kedepannya Amien’.

 
Leave a comment

Posted by pada Oktober 29, 2010 in Ceritaku

 

Finally Happy……….

Hari ini tepat satu minggu sejak pertama kali nabila diantar ke TPA (tempat penitipan anak). Aku sudah bisa bernafas lega karena pagi ini nabila mengantar kepergian mama dan papanya dengan senyum, lambaian, tangan dan kiss by yang so sweet. Masih terekam jelas dalam benakku ketika pertama kali kami harus menitipkannya di tpa, tangisan yang menyayat hati dan pelukan erat dalam gendonganku. Dalam isaknya menolak untuk ditinggal, membuat hatiku pilu. Bujuk rayu suamiku tak mempan untuk membuatnya berhenti menangis. Aku mendekapnya erat di dada, membisikkan kata-kata pujian dan janji untuk melunakkan hatinya. Dua menit, tiga menit, lima menit, tak ada tanda-tanda dia akan merelakanku pergi. Nabila masih menangis menjerit-jerit memangilku dalam gendongan ms.Tati ketika kuputuskan untuk menguatkan hati meninggalkannya ke kantor. Suamiku membesarkan hati,’ga apa-apa ma, memang butuh adaptasi, paling satu dua hari aja kayak gitu’. Oke, lagipula ini bukan yang kali pertama nabila dititip bersama orang lain. Sebelumnya, dengan yayi pun dia begitu. Aku menghalau khawatir dalam hati. ‘ayo sayang, kamu pasti bisa, kamu kan anak mama yang kuat. Kita kan sudah sering melakukan ini, dengan mbah,bu fadhil, dengan mbak suwar, dengan yayi.mama tahu, bersabarlah cinta, nanti siang mama jemput’, kataku dalam hati.

Alhamdulilah, akhirnya Nabila bisa juga beradaptasi di TPA dan sudah akrab dengan Ms. Tati, Ms Dian, Ms Evi, kak Ami, Kak Zahra, Sari dan Abil. Have fun my little girl. Mommy proud of you

 
Leave a comment

Posted by pada Juli 5, 2010 in Ceritaku

 

The terrible two

Nabila sudah menginjak umur 2 tahun lebih 2 bulan. Semakin cerdas akalnya, semakin baik pemahamannya tentang segala sesuatu yang dia lihat dan dengar, semakin tinggi rasa ingin tahunya. Seringkali aku dibuat kewalahan dengan tingkah polahnya yang ingin menirukan segala sesuatu yang ku kerjakan. Mama berdandan, dia juga ingin berdandan, pengen pakai body lotion juga, deodorant juga, dan bedak tak ketinggalan. Kalau aku pulang istirahat siang dari kantor, biasanya di baru terbangun dari tidur dan minta ditemeni, ga mau ditinggal, padahal aku harus memasak dan menyiapkan makan siang. Kalau sudah begitu maka Nabila harus dibujuk-bujuk supaya mau ditinggal dengan cara: 1) sogok jajanan kesukaannya sambil disetelin upin (biasanya sih ga bertahan lama coz begitu jajanan habis, inget lagi deh dia kalo mamanya ga ada). 2) Suruh ngikut nemenin mama masak di dapur. Untuk menyibukkan dia, mengorbankan sedikit bahan masak untuk dijadikan mainannya ga masalah yang penting Nabila punya kesibukan sendiri n ga ngrecokin mamanya masak. Biasanya aku kasih mangkok palstik isi tepung n gelas plastik isi air plus sendok dan ayakannya. Atau kalo tidak aku kasih ulegan n seiris tempe atau tahu dan air supaya dia bisa bereksperimen (he….he….. siapa tahu jadi koki beneran yah). Sebetulnya memang agak ribet kalau menyertakan Nabila dalam setiap aktivitas rumah tangga terutama masak dan cuci baju, selain kerjaan jadi lama, plus ntar mesti ekstra kerjaan ngeberesi segala yang berceceran di sana-sini, tapi memang itu salah satu cara efektif untuk membuat dia tetap bisa bersama kita dan kita bisa tetap mengerjakan pekerjaan rumah tangga sesuai jadwal. Sering aku merasa lelah sehingga kadanng tak sabaran untuk meladeni semua kemanjaan dan keinginannya, tapi aku berusaha untuk menjelaskan situasi yang terjadi dan berharap dia memahami intonasi-intonasi suaraku berat bertanda sedang jengkel. Adakalanya memang dia mengerti, tetapi adakalanya juga malah membuat dia menangis bombay. Aaahhhh….. Bila….Bila…..Bgaimanapun, Mama tetap sayang kamu

 
Leave a comment

Posted by pada April 17, 2010 in Ceritaku

 

Behind the ‘Monster Inc’

supposed to be post yesterday

Siang ini sambil meyuapi Nabila makan siang, untuk yang ketiga kalinya (kalau ga’ salah) aku nonton film bergenre komedi anak-anak ‘Monster Inc’. Nabila terkikik-kikik melihat tingkah polah Mr. Sullivan yang berusaha nyembunyiin si bocah imut. Setelah menyuapi Nabila, aku segera ke dapur untuk mencuci semua peralatan memasak dan piring kotor yang menumpuk. Sambil mencuci piring, iseng aku memikirkan, sebenarnya apa sih pesan yang ingin disampaikan oleh si pembuat film monster inc ini?. Ceritanya memang cukup sederhana, yaitu di dunia khayalan yang isinya para monster, ada perusahaan pembangkit energi yang dipimpin oleh Mr. Mike Wazowski . Cara mereka memperoleh energi untuk kelangsungan hidup para monster itu adalah dengan menakut-nakuti anak-anak manusia di malam hari ketika mereka tidur. teriakan ketakutan dari anak-anak kecil itu kemudian dimasukkan dalam tabung dan isi tabung itulah yang kemudian digunakan sebagai sumber pembangkit energi. Mudahnya, mereka membuat anak-anak kecil tersebut berteriak ketakutan untuk mengambil energi ketakutan mereka itu. Tetapi pada akhirnya alih-alih membuat para anak kecil itu berteriak ketakutan, Sullivan (Sally) akhirnya memutuskan untuk membuat mereka gembira dan menggunakan energi gembira mereka sebagai sumber energi. Hemmmm……..aku sudah mulai akan membilas piring dan peralatan masak yang sudah kusabun sebelumnya dan aku masih belum yakin ….tapi aku menemukan beberapa clue

Takut —->teriakan—-> energi negatif —->kekuatan—-> sedikit

Gembira —->tawa—-> energi positif —–>kekuatan—-> banyak

Voilaaaa!!!!!……………aku tahu. The message is energi positif dan negatif memang sam-sama menghasilkan kekutan tetapi energi positif dapat menghasilkan kekuatan yang berlipat banyaknya. Korelasinya dengan kehidupan kita sehari-hari?. Jelas, segala hal yang dilandasi oleh perasaan positif akan menghasilkan pikiran yang positif, pikiran yang positif akan membangkitkan energi yang positif juga.  Jika digabungkan, perasaan, pikiran dan energi yang positif akan mendatangkan hal yang baik untuk kita. Jika kita positif maka insya Allah sekeliling kita juga akan terkena imbas aura positif yang kita pancarkan. Hiya…kurang lebih seperti kali ya………

Semoga bermanfaat……..



 
Leave a comment

Posted by pada Desember 24, 2009 in Ceritaku

 

Kaitkata:

270 km to Palembang

Perjalanan mudik lebaran kali ini agak berbeda dari tahun lalu. Tahun lalu kami sekeluarga mudik ke Rembang, Jawa Tengah. Aku dan Nabila menempuh jalur udara lewat Semarang sedangkan suamiku menempuh jalur darat dengan menumpang mobil teman yang kebetulan juga mudik ke Kuningan Jawa Barat. Pulang ke Jambi, kami bertiga memilih untuk naik bus, menempuh perjalanan 2 hari 2 malam dari Jogja. Pengalaman yang baru untukku yang belum pernah menempuh perjalanan ke luar pulau Jawa melalui jalur darat, ditambah membawa Nabila yang waktu itu masih berumur 9 bulan Bukan perjalanan yang mudah, tapi memberi nuansa baru perjalanan liburanku.

Libur lebaran tahun ini, kami mengunjungi Papa ke Palembang. Sebenarnya, sudah sering kami pergi ke Palembang dan selama ini tak ada yang istimewa karena selama perjalan ke Palembang naik travel, kerjaku cuma tidur aja, sebab kalau tidak, aku pasti bakalan mabuk darat. Yang membuat perjalanan ke Palembang kali ini sedikit lain adalah……kami memilih untuk menempuh jalur darat dengan menggunakan angkutan roda dua alias bersepeda motor ria.  Rencananya…hanya suamiku saja yang akan pergi naik motor dengan pertimbangan saat lebaran nanti saudara-saudaranya bakal ngumpul semua sedangakan di Palembang hanya ada satu kendaraan saja jadi susah kalau mau pergi kemana-mana (selain alasan berhemat). Tapi karena aku khawatir dia menyetir motor sendirian dan nantininya ga ada yang ngingetin kalo ngantuk atau capek di jalan, maka dengan membaca Bismillah, kuputuskan untuk turut serta. Maka jadilah kami Aku, Nabila, dan Papa Nabila)  menempuh perjalanan sejauh 270 km dari Jambi ke Palembang. Perjalanan yang seharusnya hanya memakan waktu 5 jam jika naik mobil, kami tempuh dalam waktu hampir 8 jam. Itu sudah termasuh waktu untuk berhenti istirahjat dan mengisi bahan bakar, juga berhenti karena hujan. Memang menegangkan tetapi juga sekaligus menantang dan  membuat penasaran. Sepanjang jalan dari kabupaten Muaro Jambi yang merupakan daerah perbatasan propinsi Jambi dengan Sumatera Selatan, Bayung Lencir, Sungai Lilin, Betung, Balai, Palembang tak sedetikpun mataku terpejam. Kuresapi benar pemandangan di sepanjang jalur lintas Sumatera yang berkelok-kelok dihiasi hutan sawit dan karet nan teduh dan hijau di kanan kiri jalan, seperti gambar wallpaper yang sering kuliihat di komputerku. Sungguh berlainan betul dengan jalur Blora-Cepu yang dihiasi hutan jati gersang kering keronta karena dijarah tangan-tangan penebang kayu liar yang tak bertanggung jawab.

Anyway, sampai di SPBU Betung  sekitar pukul 10 pagi, kami beristirahat agak lama di masjid yang terletak di bagian belakang SPBU. Selain untuk mengistirahatkan pantat yang sudah sangat-sangat puegel, sekalian menyuapi Nabila yang memang sudah lewat waktunya sarapan, jadi breaklunch sekalian. Kesempatan itu juga tak dilewatkan Nabila untuk bermain sebentar mengeksplorasi sekitar masjid. Waktu itu juga kumanfaatkan untuk sedikit berolah raga mengusir pegal di punggung karena harus menggendong Nabila dan seklaigus men-cangklong ransel di punggung. Sekitar 30 menit kemudian kami kembali melanjutkan perjalanan.

Sepanjang 270 km itu, tak jarang kulihat rumah-rumah penduduk di pinggir hutan. Dindingnya terbuat dari kayu seadanya dengan atap daun kelapa kering. Rumah-rumah gubuk panggung itu ….beserta penghuninya….dan anak-anak mereka yang masih ingusan…dengan baju yang seadanya…….. sarana mck yang juga seadanya ……….Hhhhhhhhhhhhh………….. membuatku lidahku kelu. Pikiranku melesatkan kata tanya yang tak habis-habisnya, mereka-reka jawaban. Apakah anak-anak itu cukup gizinya?. Apakah mereka minum susu formula?. Dengan apa mereka makan hari ini?. Apakah mereka punya keinginan untuk membeli baju baru di hari lebaran nanti?. Apakah mereka tidak takut kegelapan di malam hari?. Apa yang mereka kerjakan di siang hari ?. Bagaimana mereka tahu jadwal imsak dan buka ketika puasa?. Apakah mereka bahagia? atau Apakah mereka juga sesusah seperti apa yang kulihat dari keadaan gubuk mereka?. Tanya, tanya, dan tanya. Aku jadi malu sama Tuhan. Harusnya aku lebih bisa bersyukur dengan segala apa yang telah diberikan oleh-Nya. Hhhh…….semua nuansa itu, kudekap, kurangkum dalam dzikir di hati. Kucium kepala Nabila yang tertidur pulas dalam gendonganku, kupeluk lebih erat. Subhanallah….betapa Allah menyayangi hambaNya. Tapi hambaNya lah yang terkadang kurang bersyukur atas segala rahmat yang telah dilimpahkan-Nya.

Memasuki kilo ke 48 mendekati perbatasan Palembang, hujan rintik-rintik menyejukkan perjalanan siang itu. Tetap saja kami harus berteduh, di sebuah masjid yang sedang di rehab. Kami disambut hangat warga yang kebetulan sedang bergotongroyong memperbaiki lantai teras masjid. Dengan kekeluargaan salah seorang bapak yang sudah baya menyilahkan kami memasuki masjid dan dengan hangat menayakan asal dan tujuan kami. Tentu saja mereka geleng-geleng kepala melihat kenekatan membawa Nabila yang masih 1 tahun 8 bulan kami ajak serta mudik naik sepeda motor. Ketika hujan reda dan kami pamit untuk melanjutkan perjalanan, bapak-bapak itu dengan tulus mengingatkan kami supaya hati-hati di perjalanan.

Alhamdulillah, pukul 14.30 akhirnya kami tiba di rumah Yayi.

 
1 Comment

Posted by pada September 30, 2009 in Ceritaku

 

Ciluuuukkkk…….haaaaa

Selain senang bermain petak umpet dengan si cicak serta main tendang si Pus, Nabila juga suka main ciluk baa, dan benda favoritnya untuk bermain ciluk ba adalah GORDEN. Dengan tertatih-tatih setengah berjalan setengah merangkak, dia menelusup ke balik gorden dan menyembunyikan wajahnya. Kalo kemudian aku bilang ‘Ciluuukkkk….’, maka sambil menyibakkan gorden, Nabila akan menjawab ‘Haaaaa…..’, sambil tersenyum memamerkan gigi kelinci atasnya. Aduuuhhh…..mama langsung jatuh cinta deh kalo lihat Nabila senyum kayak gitu. Disembunyikannya lagi wajahnya di balik gorden sambil tangannya menggapai-gapai. ‘Ciluuuk….haaaa’, dan ketawanya semakin tergelak kalo kutempelkan wajahku ke wajahnya yang tersembunyi di balik gorden. Semakin diladenin, ketawanya semakin tergelak sampe menjerit-jerit, menggemaskan sekali deh. Kadang, dia bermain ciluk ba sambil berdiri sehingga membuat gordennya terpilin-pilin. Karena takut dia terjengkang, gorden kunaikkan dan kusangkutkan pada teralis jendela. Tapi Nabila ga kurang akal, dipanjatnya teralis yang melindungi kaca jendela. Waaduuuuuhhhh Nabila….Tomboi sekali nak. Berikutnya, bukan hanya teralis yang dipanjat tapi rak kosmetik, rak TV. Hmmmmm………jadilalah mama olah raga kalo sudah begini, nurun-nurunin Nabila yang sedang main panjat-panjatan.

 
Leave a comment

Posted by pada Desember 27, 2008 in Ceritaku

 

Si Puspus kena tendang

Entah darimana datang kucing betina warna kuning belang putih ini. Yang pasti sejak 1 bulan ini dia jadi primadona bagi kawanan kucing jantan di blok rumah kami. Aku memanggilnya Puspus (bukannya semua kucing kupanggil puspus?). Puspus jinak sekali, dia ga sungkan-sungkan mengeong bermanja-manja di kaki kalo kami(aku, Nabila, Mbah, dan Yayi) yang sedang bersantai di teras rumah. Puspus rakus sekali, dia makan segala yang kami berikan, kue cukit gigi, roti keju, nasi, tempe, tahu, ayam, bahkan bubur nabila rasa pisang strawberry pun dimakannya. Weleeehhh…..canguk nian orang jambi bilang. Selidik punya selidik, ternyata si Puspus lagi hamil, pantas saja selera makannya membabi buta.

Si Puspus jadi objek bergerak yang menarik buat Nabila. Dalam gendonganpun, dia meronta ingin turun jika melihat si Puspus ada di dekat situ. Kalo sudah begitu si Mbah sibuk mengusir si Pus karena takut bulunya yang kotor membawa penyakit. Bisa kulihat gerakan tangan Nabila yang gemas ingin memegang si Pus. Sesekali kubiarkan dia merangkak mendekati si Pus, dicengeramnya bulu si Pus seperti meremas kertas, tentu saja aku menjerit ngeri sambil mengangkat tubuhnya menjauhi si Pus. ‘Aduuuhhh nak jangan diremes begitu donk Pusnya, kan sakit!’, seruku. Begitupun kakinya masih sempat menendang si Pus dan dia meronta-ronta masih ingin memegangnya. Kalau Puspus tiduran di bawah kursi teras, kaki Nabila yang sedang berdiri sibuk menendang-nendang ke bawah kursi. Sekali dua kali si Pus masih mentolerir kelakukan anarkis Nabila. Suatu ketika, aku lengah membiarkan dia menendang si Pus, rupanya hari itu si Pus sudah kesal sekali dengan kelakuan Nabila yang jahil. Jadilah si Pus mencakar kaki Nabila. Allah……bekas kuku tajam si Pus tercetak jelas di kulit kali Nabila, pun begitu Nabila hanya terdiam pucat tak menangis. Aku segera mencuci dan mengolesi kakinya dngan betadine lalu membalutnya dengan hansaplast. Kupikir kemudian dia akan takut jika melihat si Puspus lagi, ternya aku salah. Bahkan rasa penasarannya sama Puspus semakin menjadi. Kali ini aku harus ekstra waspada jika sudah ada si Pus. Jangan sampai Nabila kena cakar si Puspus lagi. Jangan sampe Puspus kena tendang Nabila lagi.

 
1 Comment

Posted by pada Desember 27, 2008 in Ceritaku

 

Si “Mbah”

Umurnya sudah sekitar 60 tahunan, rambutnya….seluruhnya telah kelabu, giginya juga tak lagi utuh. Kulitnya telah keriput tapi tubuhnya masih tegap dan kuat. itulah “Mbah”, begitulah aku memanggilnya sehari-hari, beliau adalah pengasuh Nabila, putriku yang saat ini berusia 9 bulan. Tak hanya mengasuh Nabila, si Mbah masih kuat mencuci baju dan menyeterika pakaian kami sekeluarga. Mbah lahir dan besar di Jambi, tapi kedua orang tuanya adalah transmigran asal jawa. Maka sehari-hari aku menggunakan bahasa Jawa untuk berkomunikasi.

Dikala senggang, aku suka sekali mendengar cerita hidupnya. Tentang bapaknya yang hanya seorang petani penggarap sehingga mereka sekeluarga sering berpindah-pindah tempat. Dimana ada sawah atau ladang yang bisa digarap, disitulah mereka menetap. “Saat itu jaman susah”, kata si Mbah. “Bahan pangan susah, jadi bapak saya bertani untuk memenuhi kebutuhan makan sekeluarga”, lanjutnya. Mbah juga bercerita tentang pengalamannya hampir tenggelam pada umur 5 tahun ketika ikut bapaknya mencari ikan di sungai. Mbah menceritakannya dengan rinci. Untung waktu itu dia bisa diselamatkan. Sungguh pelangalaman yang tak bisa beliau lupakan sampai sekarang. Memang, pengalaman traumatis selalu membekas dalam ingatan anak-anak.Juga ada cerita tentang keluarga besarnya, tentang situasi kota Jambi pada waktu pendudukan Jepang (waktu itu Mbah masih berumur tujuh tahunan), juga tentang pemberontakan PKI di Jambi pada tahun 1965. Mbah memang sudah sepuh, tapi ingatannya masih tajam. Mbah adalah orang yang sederhana. Tak ada keinginannya yang muluk-muluk di dunia ini kecuali kesehatan serta kehidupan yang lebih baik bagi anak, cucu, serta cicitnya kelak.

Mbah senang sekali menonton berita (dan acara wisata kuliner Pak Bondan mak nyuss). Segala sesuatu yang terjadi di tanah air Indonesia belakangan ini tak luput dari perhatiannya. Kasus pembunuhan berantai Ryan, kasus suap jaksa Urip dan korupsi Al Amien Nasution, maraknya peredaran daging gelonggongan dan daging sampah sisa hotel, pembantu yang memutilasi majikannya, serta kasus kriminal lain, menjadi topik yang kami diskusikan waktu menonton TV. “Jaman edan, dunia mau kiamat karena sudah terjadi perang Bharatayudha, perang saudara”, kata Mbah saat kami menonton siaran berita yang menampilkan tragedi perseteruan antara FPI (Front Pembela Islam) dan AKBB (Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan) yang berbuntut insiden MONAS tanggal 1 Juni 2008 lalu. Dulu orangtuanya pernah bercerita, kalau di dunia ini sudah banyak terjadi perang Bharatayudha yaitu perang antar saudara (baca kisah Mahabarata), maka tandanya dunia sudah mendekati kiamat.

Mungkin benar apa yang dikatakan Mbah. Lihatlah wajah Indonesia saat ini, bencana ada dimana-mana, perselisihan antar penduduk tak pernah berhenti diberitakan di TV. Rusuh antar pendukung calon gubernur di pilkada serti menjamur dimana-mana, cermin ketidakikhlasan hati, katanya demokrasi tapi ga sportif.

Begitulah si Mbah, keuzuran tak mengurangi kepekaannya akan hidup ini. Mbah memang hanya pengasuh Nabila tapi bagiku beliau sudah seperti nenek sendiri. Mbah boleh tak mengecap pendidikan tinggi di masa hidupnya tapi beliau belajar dari hidup ini dan kebijaksanaan yang beliau dapat tak kan pernah kita dapatkan di sekolah tinggi manapun. Apalagi, beliau sudah bekerja hampir sepanjang hidupnya, sejak umur empat belas tahun. Aku berdoa kepada Yang Maha Pengasih, semoga Mbah selalu sehat dan juga kumohonkan keselamatan bagi seluruh keluarganya. Semoga beliau masih bisa mendampingiku mengasuh Nabila di masa yang akan datang. Amien

 
Leave a comment

Posted by pada November 8, 2008 in Ceritaku

 
 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.