Beninglarashati’s Weblog

Unspoken words….just write it down!

Arsip untuk ‘Ceritaku’ Kategori

270 km to Palembang

Ditulis oleh beninglarashati di/pada September 30, 2009

Perjalanan mudik lebaran kali ini agak berbeda dari tahun lalu. Tahun lalu kami sekeluarga mudik ke Rembang, Jawa Tengah. Aku dan Nabila menempuh jalur udara lewat Semarang sedangkan suamiku menempuh jalur darat dengan menumpang mobil teman yang kebetulan juga mudik ke Kuningan Jawa Barat. Pulang ke Jambi, kami bertiga memilih untuk naik bus, menempuh perjalanan 2 hari 2 malam dari Jogja. Pengalaman yang baru untukku yang belum pernah menempuh perjalanan ke luar pulau Jawa melalui jalur darat, ditambah membawa Nabila yang waktu itu masih berumur 9 bulan Bukan perjalanan yang mudah, tapi memberi nuansa baru perjalanan liburanku.

Libur lebaran tahun ini, kami mengunjungi Papa ke Palembang. Sebenarnya, sudah sering kami pergi ke Palembang dan selama ini tak ada yang istimewa karena selama perjalan ke Palembang naik travel, kerjaku cuma tidur aja, sebab kalau tidak, aku pasti bakalan mabuk darat. Yang membuat perjalanan ke Palembang kali ini sedikit lain adalah……kami memilih untuk menempuh jalur darat dengan menggunakan angkutan roda dua alias bersepeda motor ria.  Rencananya…hanya suamiku saja yang akan pergi naik motor dengan pertimbangan saat lebaran nanti saudara-saudaranya bakal ngumpul semua sedangakan di Palembang hanya ada satu kendaraan saja jadi susah kalau mau pergi kemana-mana (selain alasan berhemat). Tapi karena aku khawatir dia menyetir motor sendirian dan nantininya ga ada yang ngingetin kalo ngantuk atau capek di jalan, maka dengan membaca Bismillah, kuputuskan untuk turut serta. Maka jadilah kami Aku, Nabila, dan Papa Nabila)  menempuh perjalanan sejauh 270 km dari Jambi ke Palembang. Perjalanan yang seharusnya hanya memakan waktu 5 jam jika naik mobil, kami tempuh dalam waktu hampir 8 jam. Itu sudah termasuh waktu untuk berhenti istirahjat dan mengisi bahan bakar, juga berhenti karena hujan. Memang menegangkan tetapi juga sekaligus menantang dan  membuat penasaran. Sepanjang jalan dari kabupaten Muaro Jambi yang merupakan daerah perbatasan propinsi Jambi dengan Sumatera Selatan, Bayung Lencir, Sungai Lilin, Betung, Balai, Palembang tak sedetikpun mataku terpejam. Kuresapi benar pemandangan di sepanjang jalur lintas Sumatera yang berkelok-kelok dihiasi hutan sawit dan karet nan teduh dan hijau di kanan kiri jalan, seperti gambar wallpaper yang sering kuliihat di komputerku. Sungguh berlainan betul dengan jalur Blora-Cepu yang dihiasi hutan jati gersang kering keronta karena dijarah tangan-tangan penebang kayu liar yang tak bertanggung jawab.

Anyway, sampai di SPBU Betung  sekitar pukul 10 pagi, kami beristirahat agak lama di masjid yang terletak di bagian belakang SPBU. Selain untuk mengistirahatkan pantat yang sudah sangat-sangat puegel, sekalian menyuapi Nabila yang memang sudah lewat waktunya sarapan, jadi breaklunch sekalian. Kesempatan itu juga tak dilewatkan Nabila untuk bermain sebentar mengeksplorasi sekitar masjid. Waktu itu juga kumanfaatkan untuk sedikit berolah raga mengusir pegal di punggung karena harus menggendong Nabila dan seklaigus men-cangklong ransel di punggung. Sekitar 30 menit kemudian kami kembali melanjutkan perjalanan.

Sepanjang 270 km itu, tak jarang kulihat rumah-rumah penduduk di pinggir hutan. Dindingnya terbuat dari kayu seadanya dengan atap daun kelapa kering. Rumah-rumah gubuk panggung itu ….beserta penghuninya….dan anak-anak mereka yang masih ingusan…dengan baju yang seadanya…….. sarana mck yang juga seadanya ……….Hhhhhhhhhhhhh………….. membuatku lidahku kelu. Pikiranku melesatkan kata tanya yang tak habis-habisnya, mereka-reka jawaban. Apakah anak-anak itu cukup gizinya?. Apakah mereka minum susu formula?. Dengan apa mereka makan hari ini?. Apakah mereka punya keinginan untuk membeli baju baru di hari lebaran nanti?. Apakah mereka tidak takut kegelapan di malam hari?. Apa yang mereka kerjakan di siang hari ?. Bagaimana mereka tahu jadwal imsak dan buka ketika puasa?. Apakah mereka bahagia? atau Apakah mereka juga sesusah seperti apa yang kulihat dari keadaan gubuk mereka?. Tanya, tanya, dan tanya. Aku jadi malu sama Tuhan. Harusnya aku lebih bisa bersyukur dengan segala apa yang telah diberikan oleh-Nya. Hhhh…….semua nuansa itu, kudekap, kurangkum dalam dzikir di hati. Kucium kepala Nabila yang tertidur pulas dalam gendonganku, kupeluk lebih erat. Subhanallah….betapa Allah menyayangi hambaNya. Tapi hambaNya lah yang terkadang kurang bersyukur atas segala rahmat yang telah dilimpahkan-Nya.

Memasuki kilo ke 48 mendekati perbatasan Palembang, hujan rintik-rintik menyejukkan perjalanan siang itu. Tetap saja kami harus berteduh, di sebuah masjid yang sedang di rehab. Kami disambut hangat warga yang kebetulan sedang bergotongroyong memperbaiki lantai teras masjid. Dengan kekeluargaan salah seorang bapak yang sudah baya menyilahkan kami memasuki masjid dan dengan hangat menayakan asal dan tujuan kami. Tentu saja mereka geleng-geleng kepala melihat kenekatan membawa Nabila yang masih 1 tahun 8 bulan kami ajak serta mudik naik sepeda motor. Ketika hujan reda dan kami pamit untuk melanjutkan perjalanan, bapak-bapak itu dengan tulus mengingatkan kami supaya hati-hati di perjalanan.

Alhamdulillah, pukul 14.30 akhirnya kami tiba di rumah Yayi.

Ditulis dalam Ceritaku | Leave a Comment »

Ciluuuukkkk…….haaaaa

Ditulis oleh beninglarashati di/pada Desember 27, 2008

Selain senang bermain petak umpet dengan si cicak serta main tendang si Pus, Nabila juga suka main ciluk baa, dan benda favoritnya untuk bermain ciluk ba adalah GORDEN. Dengan tertatih-tatih setengah berjalan setengah merangkak, dia menelusup ke balik gorden dan menyembunyikan wajahnya. Kalo kemudian aku bilang ‘Ciluuukkkk….’, maka sambil menyibakkan gorden, Nabila akan menjawab ‘Haaaaa…..’, sambil tersenyum memamerkan gigi kelinci atasnya. Aduuuhhh…..mama langsung jatuh cinta deh kalo lihat Nabila senyum kayak gitu. Disembunyikannya lagi wajahnya di balik gorden sambil tangannya menggapai-gapai. ‘Ciluuuk….haaaa’, dan ketawanya semakin tergelak kalo kutempelkan wajahku ke wajahnya yang tersembunyi di balik gorden. Semakin diladenin, ketawanya semakin tergelak sampe menjerit-jerit, menggemaskan sekali deh. Kadang, dia bermain ciluk ba sambil berdiri sehingga membuat gordennya terpilin-pilin. Karena takut dia terjengkang, gorden kunaikkan dan kusangkutkan pada teralis jendela. Tapi Nabila ga kurang akal, dipanjatnya teralis yang melindungi kaca jendela. Waaduuuuuhhhh Nabila….Tomboi sekali nak. Berikutnya, bukan hanya teralis yang dipanjat tapi rak kosmetik, rak TV. Hmmmmm………jadilalah mama olah raga kalo sudah begini, nurun-nurunin Nabila yang sedang main panjat-panjatan.

Ditulis dalam Ceritaku | Leave a Comment »

Si Puspus kena tendang

Ditulis oleh beninglarashati di/pada Desember 27, 2008

Entah darimana datang kucing betina warna kuning belang putih ini. Yang pasti sejak 1 bulan ini dia jadi primadona bagi kawanan kucing jantan di blok rumah kami. Aku memanggilnya Puspus (bukannya semua kucing kupanggil puspus?). Puspus jinak sekali, dia ga sungkan-sungkan mengeong bermanja-manja di kaki kalo kami(aku, Nabila, Mbah, dan Yayi) yang sedang bersantai di teras rumah. Puspus rakus sekali, dia makan segala yang kami berikan, kue cukit gigi, roti keju, nasi, tempe, tahu, ayam, bahkan bubur nabila rasa pisang strawberry pun dimakannya. Weleeehhh…..canguk nian orang jambi bilang. Selidik punya selidik, ternyata si Puspus lagi hamil, pantas saja selera makannya membabi buta.

Si Puspus jadi objek bergerak yang menarik buat Nabila. Dalam gendonganpun, dia meronta ingin turun jika melihat si Puspus ada di dekat situ. Kalo sudah begitu si Mbah sibuk mengusir si Pus karena takut bulunya yang kotor membawa penyakit. Bisa kulihat gerakan tangan Nabila yang gemas ingin memegang si Pus. Sesekali kubiarkan dia merangkak mendekati si Pus, dicengeramnya bulu si Pus seperti meremas kertas, tentu saja aku menjerit ngeri sambil mengangkat tubuhnya menjauhi si Pus. ‘Aduuuhhh nak jangan diremes begitu donk Pusnya, kan sakit!’, seruku. Begitupun kakinya masih sempat menendang si Pus dan dia meronta-ronta masih ingin memegangnya. Kalau Puspus tiduran di bawah kursi teras, kaki Nabila yang sedang berdiri sibuk menendang-nendang ke bawah kursi. Sekali dua kali si Pus masih mentolerir kelakukan anarkis Nabila. Suatu ketika, aku lengah membiarkan dia menendang si Pus, rupanya hari itu si Pus sudah kesal sekali dengan kelakuan Nabila yang jahil. Jadilah si Pus mencakar kaki Nabila. Allah……bekas kuku tajam si Pus tercetak jelas di kulit kali Nabila, pun begitu Nabila hanya terdiam pucat tak menangis. Aku segera mencuci dan mengolesi kakinya dngan betadine lalu membalutnya dengan hansaplast. Kupikir kemudian dia akan takut jika melihat si Puspus lagi, ternya aku salah. Bahkan rasa penasarannya sama Puspus semakin menjadi. Kali ini aku harus ekstra waspada jika sudah ada si Pus. Jangan sampai Nabila kena cakar si Puspus lagi. Jangan sampe Puspus kena tendang Nabila lagi.

Ditulis dalam Ceritaku | 1 Komentar »

Si “Mbah”

Ditulis oleh beninglarashati di/pada November 8, 2008

Umurnya sudah sekitar 60 tahunan, rambutnya….seluruhnya telah kelabu, giginya juga tak lagi utuh. Kulitnya telah keriput tapi tubuhnya masih tegap dan kuat. itulah “Mbah”, begitulah aku memanggilnya sehari-hari, beliau adalah pengasuh Nabila, putriku yang saat ini berusia 9 bulan. Tak hanya mengasuh Nabila, si Mbah masih kuat mencuci baju dan menyeterika pakaian kami sekeluarga. Mbah lahir dan besar di Jambi, tapi kedua orang tuanya adalah transmigran asal jawa. Maka sehari-hari aku menggunakan bahasa Jawa untuk berkomunikasi.

Dikala senggang, aku suka sekali mendengar cerita hidupnya. Tentang bapaknya yang hanya seorang petani penggarap sehingga mereka sekeluarga sering berpindah-pindah tempat. Dimana ada sawah atau ladang yang bisa digarap, disitulah mereka menetap. “Saat itu jaman susah”, kata si Mbah. “Bahan pangan susah, jadi bapak saya bertani untuk memenuhi kebutuhan makan sekeluarga”, lanjutnya. Mbah juga bercerita tentang pengalamannya hampir tenggelam pada umur 5 tahun ketika ikut bapaknya mencari ikan di sungai. Mbah menceritakannya dengan rinci. Untung waktu itu dia bisa diselamatkan. Sungguh pelangalaman yang tak bisa beliau lupakan sampai sekarang. Memang, pengalaman traumatis selalu membekas dalam ingatan anak-anak.Juga ada cerita tentang keluarga besarnya, tentang situasi kota Jambi pada waktu pendudukan Jepang (waktu itu Mbah masih berumur tujuh tahunan), juga tentang pemberontakan PKI di Jambi pada tahun 1965. Mbah memang sudah sepuh, tapi ingatannya masih tajam. Mbah adalah orang yang sederhana. Tak ada keinginannya yang muluk-muluk di dunia ini kecuali kesehatan serta kehidupan yang lebih baik bagi anak, cucu, serta cicitnya kelak.

Mbah senang sekali menonton berita (dan acara wisata kuliner Pak Bondan mak nyuss). Segala sesuatu yang terjadi di tanah air Indonesia belakangan ini tak luput dari perhatiannya. Kasus pembunuhan berantai Ryan, kasus suap jaksa Urip dan korupsi Al Amien Nasution, maraknya peredaran daging gelonggongan dan daging sampah sisa hotel, pembantu yang memutilasi majikannya, serta kasus kriminal lain, menjadi topik yang kami diskusikan waktu menonton TV. “Jaman edan, dunia mau kiamat karena sudah terjadi perang Bharatayudha, perang saudara”, kata Mbah saat kami menonton siaran berita yang menampilkan tragedi perseteruan antara FPI (Front Pembela Islam) dan AKBB (Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan) yang berbuntut insiden MONAS tanggal 1 Juni 2008 lalu. Dulu orangtuanya pernah bercerita, kalau di dunia ini sudah banyak terjadi perang Bharatayudha yaitu perang antar saudara (baca kisah Mahabarata), maka tandanya dunia sudah mendekati kiamat.

Mungkin benar apa yang dikatakan Mbah. Lihatlah wajah Indonesia saat ini, bencana ada dimana-mana, perselisihan antar penduduk tak pernah berhenti diberitakan di TV. Rusuh antar pendukung calon gubernur di pilkada serti menjamur dimana-mana, cermin ketidakikhlasan hati, katanya demokrasi tapi ga sportif.

Begitulah si Mbah, keuzuran tak mengurangi kepekaannya akan hidup ini. Mbah memang hanya pengasuh Nabila tapi bagiku beliau sudah seperti nenek sendiri. Mbah boleh tak mengecap pendidikan tinggi di masa hidupnya tapi beliau belajar dari hidup ini dan kebijaksanaan yang beliau dapat tak kan pernah kita dapatkan di sekolah tinggi manapun. Apalagi, beliau sudah bekerja hampir sepanjang hidupnya, sejak umur empat belas tahun. Aku berdoa kepada Yang Maha Pengasih, semoga Mbah selalu sehat dan juga kumohonkan keselamatan bagi seluruh keluarganya. Semoga beliau masih bisa mendampingiku mengasuh Nabila di masa yang akan datang. Amien

Ditulis dalam Ceritaku | Leave a Comment »

Not Every Woman 2 (curahan hati papa)

Ditulis oleh beninglarashati di/pada November 4, 2008

Papa numpang nulis

Sudah tiga minggu aku menjalani rutinitas kuliah pra-s2, jauh dari keluarga (Mama dan Nabila) membuatku merasakan suatu yang berbeda dalam menjalani rutinitas harianku. Keinginan yang kuat dari seorang wanita yang kusayang untuk memberikan dorongan kepadaku agar melanjutkan pendidikan S2 di Yogyakarta, merupakan suatu nilai yang menurut kebanyakan orang adalah hal yang disayangkan, sekaligus menegakan. Bagaimana tidak, istriku yang seorang Jawa yang baru sekalinya merantau ke Jambi, jauh dari keluarganya dan harus beradaptasi dengan perbedaan budaya Sumatera yang mencolok, putriku masih berumur 9 bulan, dan mereka harus berpisah sementara waktu denganku. Hampir genap 2 tahun aku dan dia telah berumah tangga, namun dengan situasi sekarang yang seperti ini, dia harus mengalami lagi berjuang dalam kesendirian bersama putri kami, Nabila, dan si “Mbah”, pengasuh Nabila.

Pertimbangan untuk melanjutkan sekolah di Jogja dengan aku sebagai kepala keluarga bukanlah keputusan yang mudah. Banyak resiko yang harus dipikul sebagai konsekuensi dari keputusan ini dan harus dicari solusi sebijak mungkin. Faktor yang paling memberatkan untuk tidak melanjutkan sekolah ke Jogja saat itu adalah kesendirian istriku untuk mengasuh,merawat,mendidik putri kami dengan kasih sayang penuh ditambah padatnya rutinitas istriku sebagai seorang dosen, serta pekerjaan rumah tangga lainnya. Ya….memang ada alternatif logis yang dapat dipertimbangan dan dapat diterima banyak orang yaitu aku melanjutkan sekolah di Padang sehingga aku masih bisa berkumpul dengan keluarga. Namun sekali lagi keputusan untuk sekolah di Padang, mentah tak tergubris oleh cara berpikir istriku yang berkeinginan kuat supaya aku melanjutkan sekolah di Jogja. Dalam kondisi seperti ini aku begitu terharu, kagum, bangga, dan beruntung memiliki istri seperti dia. Bagaimana tidak,…. dia begitu merelakanku untuk meninggalkannya dan Nabila serta mengenyampingkan perjuangan, pengorbanan perasaan, tenaga dan lainnya yang akan dia hadapi dalam kesendirian. Demi aku….. agar mendapatkan pendidikan yang lebih berkualitas.

Hari ini minggu tanggal 2 November 2008, aku mengikuti pengajian di pondok pesantren Raudhatul Muttaqien di Babadan, Purwomartani, Kalasan, Sleman, Yogayakarta yang cukup jauh dari tempat kos. Selama lebih kurang 2 jam dari jam 09.00 – 11.00 pagi aku mendengarkan materi dan diskusi pengajian dan berusaha untuk hikmat dan berkonsentarasi mendengarkan dan memahami materi dan diskusi yang berlangsung. Karena aku adalah jamaah baru, maka aku masih harus beradaptasi dengan lingkungan pengajian sehingga masih belum bisa berkonsentrasi penuh. Sedikit dari materi dan diskusi yang berlangsung tidak kuperhatikan dikarenakan secara spontan datang lamunan tentang lingkungan sekitar yang mengusik kosentrasiku. Pada pagi itu materi dan diskusi disampaikan oleh Bapak Hamdani Bakran Adz-Dzakiey, seorang praktisi tasawuf, konselor, psikoterapis. Beliau dilahirkan di Balikpapan, 3 Mei 1960. Alumnus Syariah IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta ini juga berprofesi sebagai pengajar di beberapa perguruan tinggi di Yogyakarta dan Surakarta sekaligus sebagai pendiri dan pengasuh pondok pesantren Raudhatul Muttaqien. Pengajian ini sendiri dihadiri oleh lebih kurang 30 – 40 jamaah yang kebanyakan dari kalangan mahasiswa. Disampingku adalah teman satu kos yang sebelumnya telah rutin mengikuti pengajian setiap minggu pagi dan dari dialah aku mendapatkan informasi bahwa ada pengajian di pondok pesantren tersebut. Pagi itu materi dan diskusinya cukup mengagetka Yang terbayang dalam benakku adalah sebuah pengajian yang membahas hal-hal klasik. Tapi setelah diberikan pengatar oleh Bapak Hamdani bahwa pagi ini materinya adalah “Bagaimana perilaku manusia merubah perilaku alam”, dalam hati aku bergumam, “wah….penjabaran bisa panjang nih”.

Dalam pengajian itu lebih menjurus bagaimana kita mengetahui peta kehidupan kedepan dan bagaimana kita menyikapi dan berprilaku. Beliau juga banyak mengaitkan dengan ketauladanan Nabi Muhammad Saw dan Siti Khadijah. Ada tiga hal penting yang menjadi catatan bagiku untuk berprilaku/bersikap menghadpi kehidupan kedepan yang perlu disiapakan seperti apa yang disampaikan bapak Hamdani, yaitu : 1) Menjaga kesehatan fisik, point pertama ini memang banyak disepelekan oleh banyak orang, 2) Menjaga kesehatan mental. Diantaranya mental kegigihan dan keberanian, mental kesabaran, mental bersikap berprilaku dan berpenampilan Point kedua ini juga banyak yang tidak dimiliki orang; 3) Menjaga kesehatan spiritual. Disini dituntut konsistensi kita dalam beribadah kepada Yang Maha Kuasa. Point yang terakhir ini juga sangat mudah untuk disepelekan dan ditinggalkan kebanyakan orang. Sebagai contoh yang biasa terjadi dilingkungan kita, betapa banyak diatara kita begitu mudah dan ringanya untuk meninggalkan ibadah sholat. Beliau juga mengatakan apabila ketiga hal tersebut terjaga “kesahatan” nya maka insyaallah kesehatan finansial pun akan mengikuti.

Dari materi dan diskusi yang berlangsung ada beberapa penyampaian dari Bapak Hamdani mengenai perjuangan, pengorbanan seorang istri sepeti yang dilakoni oleh istri baginda Nabi Muhammad Saw, Siti Khadijah. Disini aku teringat dengan apa yang terjadi denganku dimana istriku dihadapkan pada suatu nilai-nilai pengorbanan yang harus dia lakukan dalam kehidupannya bersamaku, dalam kesendiriannya saat ini. Aku mendapatkan sedikit benang merah dari misteri kehidupan yang kulalui bersama istriku. “Istriku yang kusayang,………… betapa besar pengorbanan yang telah engkau lakukan untukku dan anakmu hingga sekarang dan selamanya, semoga Allah SWT selalu menjaga dan bersamamu serta mendapatkan rahmat dan hidayah-Nya,Amin”.

Bersambung…………………………………………….

Ditulis dalam Ceritaku | 2 Komentar »

Last week was so………

Ditulis oleh beninglarashati di/pada Oktober 24, 2008

Seminggu kemaren sungguh minggu yang penuh tantangan buatku. Papa Nabila pra S2 di Jogja, Nabila kena campak. Si “Mbah” saudaranya ada yang meninggal sehingga Nabila harus ditipkan ke istrinya pak Fadhil.

Belum sempat kami berbenah, memulihkan kondisi pasca perjalanan pulang dari liburan lebaran di Jawa, si Papa harus segera balek ke Jawa coz kuliah pra S2 nya dimulai tanggal 13 Oktober, bertepatan dengan jadwal masuk kuliah perdana mahasiswa baru. Dan….kebetulan, waktu keberangkatan si Papa kok ya pas hari Sabtu, jadwalnya si “Mbah” yang ngasuh Nabila pulang. Kebetulan minggu besoknya si mbah ada acara arisan keluarga. Waktu itu Nabila memang sudah ga enak badan. Pileknya belum juga sembuh, padahal sudah diperiksain ke bidan. Jadilah malam minggu aku cuma berdua aja sama Nabila. Bukannya tidak pernah cuma berdua di rumah sebelumnya (waktu Nabila belum genap 40 hari pun aku juga sudah pernah cuma berdua sama Nabila di rumah), tapi kali ini Nabila sedang rewel karena pileknya. Ditambah badannya demam. Duuuuhhh……kasian sekali aku melihatnya. Matanya yang selalu jernih jadi sayuu…. bawaaanya yang selalu ceria berubah jadi reweeeeeelllll banget. Main aja malas, makan cuma sedikit, nyusu ga mau, minum obatpun susah. Aku jadi sedih banget. Bener-bener bukan Nabila yang biasa. Praktis, aku tak bisa meninggalkannya barang sesaat. Maunya digendong mlulu soalnya.

Minggu paginya, tak kupedulikan pakaian kotor, cucian piring yang menumpuk, atau rumah yang sudah ga disapu dari kemaren. Aku bener-bener “MATI GAYA” karena Nabila ga mau turun dari gendongan, plus disertai rengekannya yang menyayat hati. Duuhhh naaak…what happen with you?. Aku sampe harus thawaf ngelilingi rumah karena Nabila ga mau aku nggendongnya sambil berdiri di satu tempat or duduk, mesti jalan. Ammmpuuunnn deeehhhh, mau copot rasanya kaki. Karena pengaruh obat atau mungkin karena tidurnya yang tidak jenak semalam dikarenan demam, jam 10-an Nabila akhirnya mau bobok lelap juga. Tak kusia-siakan momen ini tuk membereskan seluruh rumah. Terus terang mataku sepet liat rumah yang berantakan gini. Belum lagi tumpukan pakaian kotornya Nabila yang bau pesing. Kubuat secangkir kopi AA kental untuk me-recharge energiku dan membangkitkan positifku, kusenandungkan lagu-lagu Anggun favorit untuk menemani aktivitas berberes sekalian ngusir sunyi. Alhamdulillah sebelum “Oprah Show” di Metro TV selesai, kerjaanku dah kelar ((finally). Dengan sisa-sisa tenaga, kubuat Nasi goreng teri untuk “Breaklunch” (breakfast sekalian lunch gitu) dengan lauk ceplok telor sebiji. Rasanya…..jangan ditanya deeehhh. Ga karuan karena bikinnya ga konsen plus dalam kondisi lapeeeeeerr banget. Tapi karena sudah laper banget ya habis juga ternyata.

Hari senin, si Mbah sudah dateng pagi-pagi. Eiiitttt……kok ada yang aneh ya di muka Nabila, ada bintik-bintik merahnya gitu. Dugaan pertama Mbah, Nabil kena campak. Siangnya, si bintik merah sudah menjalar ke kaki dan tangan. Diputuskan untuk membawa Nabil ke dokter malamnya. Ketika diperiksakan, bintik merahnya sudah muncul di seluruh tubuh. Diagnosis dokter, Nabila memang kena campak. Dokter Vera dengan penuh perhatian mendengar seluruh penjelasanku tentang ikhwal mulanya penyakit Nabila. Dengan telaten dia memeriksa kondisi Nabil. Ketika dibaringkan di tempat tidur, Nabil ga takut sedikitpun, pun ketika dokter Vera memeriksa denyut jantungnya dengan stetoskop, Nabil malah senyam-senyum sambil megangi tangan dokter. Duuuhhh….ni anak, sakit juga ngegemesin. Setelah dengan sabar menjelaskan hal-hal apa saja yang harus dilakukan untuk merawat pasien campak, dokter Vera memberi resep sirup antibiotik dan obat anti demam yang diracik dengan anti alergi. Alhamdulilah, tiga hari kemudian Nabila sudah ceria kembali seperti sedia kala. Senangnya hati mama. Jangan sakit lagi ya sayang…………….Amour de mère vous tellement ma chèri.

Ditulis dalam Ceritaku | Leave a Comment »

PENGHARAPAN

Ditulis oleh beninglarashati di/pada September 20, 2008

Hujan deras disertai angin kencang mengguyur kota Jogja. Belum terlalu sore bagi orang-orang untuk melepas lelah. Malahan ini waktunya para pekerja kantor , anak-anak sekolah di tingkat atas dan mahasiswa pulang dari aktivitas seharian yang melelahkan. Aku duduk di jendela kamar kosku yang menghadap ke jalan kampung. Dari balik pagar dapat kulihat penjual mie ayam keliling sedang berteduh di gardu samping rumah kos. Sudah sejak pagi cuaca mendung, membuatku malas beraktivitas. Lagi pula hari ini tidak ada kuliah atau kegiatan akademik lain yang harus kuikuti. Tapi rasanya tidak enak membiarkan badan bermalas-malasan. Akhirnya aku pergi ke dapur, membuat kopi kental agak manis untuk mengembalikan energi dan kewaspadaan mataku. Kembali kuamati keadaan di luar sambil menghirup kopi hangat di jendela. Jalan kecil di depan selalu banjir jika hujan datang. Tidak tahu dari saluran mana air itu meluap. Menurutku, rumah-rumah penduduk di kampung Lodadi ini memang kurang teratur. Sejak tiga tahun yang lalu aku menempati kosku di daerah ini, banyak bermunculan tempat kos-kos baru yang lebih besar dan lebih bagus dari yang sudah ada. Tapi sayangnya pembangunan itu tidak disertai pengaturan tata letak yang teratur. Bangunan baru dan bagus serta bercat warna menyala berbaur dengan rumah-rumah penduduk yang biasa, bahkan ada yang terkesan kumuh, membuat keseluruhan pemandangan menjadi tidak serasi. Yang utama, jarang sekali terlihat saluran air yang benar-benar berfungsi dengan baik, bahkan ada beberapa rumah yang tidak mengindahkan tampunagn pembuangan air limbah hujan ini. Sehingga air hujan meluap ke jalan-jalan membuatnya cepat rusak dan berlubang meski baru semusim diperbaiki.

Sudah setengah jam lebih dan hujan belum juga reda. Penjual mie ayam masih setia berteduh di pos ronda seberang kosku,menunggu pembeli sambil menunggu hujan reda. Kali ini dia tidak menganggur. Beberapa pembeli yang merupakan penghuni lantai tiga rumah kosku memesan beberapa mangkuk. Dengan cekatan penjual itu menyiapkan mangkok, merebus mie dalam panci aluminium berisikan air mendidih. Sambil menunggu mie matang, bumbu-bumbu dan minyak dituang ke masing-masing mangkok sama rata. Sementara itu air di jalan sudah meluap meredam kaki si penjual mie setinggi tumit. Seorang pengendara sepeda motor lewat memakai jas hujan. Dengan hati-hati melewati samping gerobak mie ayam. Mungkin takut cipratan air dari ban motor yang berputar akan membasahi penjual mie dan gerobagnya. Mie rebus dengan potongan ayam kecil-kecil serta sawi hijau sudah siap disajikan. Semua mangkuk yang jumlahnya tiga buah diletakkan di atas nampan kayu yang sudah lusuh dan mengelupas catnya di kedua sisi. Dengan payung yang di gamit di bawah lengan, penjual itu berjalan ke arah kosku. Tiga orang teman yang tadi memesan sudah menunggu di depan pintu pagar yang merupakan bagian dari teras yang terlindung atap. Bau sedap mie ayam merasuk hidungku. Setelah menerima enam lembar ribuan dengan wajah sumringah, si penjual riang menuju gerobagnya kembali, menunggu pembeli lain sambil membunyikan dua bilah bambu kecil. Tek…tek…tek……Air hujan membasahi muka dan sebagian bajunya.

Wajah itu sudah sering kulihat tiap sore. Masih muda, sekitar duapuluh tahunan. Tapi kesegaran wajah muda itu disembunyikan oleh keriput di sekitar mata dan kulit yang hitam terpapar sinar matahari setiap harinya. Hanya bola mata jernih yang menyiratkan kemudaan semangat hidup yang ada di dirinya. Menyadari bahwa dirinya harus berjuang lebih keras untuk mencari lembaran-lembaran rupiah agar tetap bertahan hidup. Mungkin bukan hanya untuk menopang dirinya sendiri, tapi juga untuk nyawa-nyawa lain yang menggantungkan harapan ke pundaknya. Kadang kudapati matanya nanar memandangi anak-anak muda berpakaian rapi, meyandang tas yang berisi buku-buku pelajaran. Mungkin membayangkan jika saja sore itu dirinyalah yang berpakaian rapi dan menyandang tas. Berada di dalam ruang kelas kuliah, dengan seksama mendengarkan dosen menglhotbahkan matakuliah ekonomi. Impian itu terasa jauh dari jangkauannya. Tapi siapa tahu nasib apa yang akan menyapanya kelak. Sekilas, ada berkas pengharapan di sudut matanya. Keinginan untuk meraih hidup yang lebih layak dan membahagiakan keluarga kelak. Dia tahu hujan ini tidak akan menghalangi langkahnya menggapai mimpi hari ini.

Beberapa saat kemudian kulihat penjual mie ayam mendorong gerobaknya menuju gang lain di samping gardu. Ada senyum optimisme mengiringi langkahnya, tersungging di bibirnya yang pucat menahan dingin cuaca. Tek….tk…tek….Sayup-sayup suara bilah bambu beradu semakin menjauh.

Original created by sukma. Naskah asli pertama kali ditulis 20 Februari 2004.

Ditulis dalam Ceritaku | Leave a Comment »