1 April 2011
Hari ini tepat 29 tahun hadirku di dunia. Tak ada yang istimewa. Aku masih dalam masa ‘istirahat’ pasca pendarahan yang kualami tanggal 26 maret lalu. Sejauh ini, kondisi flek-flek yang aku alami tak juga membaik bahkan frekuensinya menjadi sering. Aku sendiri sudah lelah dengan istirahat yang berkepanjangan tanpa dapat melakukan sesuatu aktifitas fisik yang berarti. Sangat menyiksa bagi jika sepanjang hari aku harus lebih banyak menghabiskan waktu berbaring di tempat tidur demi menjaga stabilitas ketahanan rahimku. Dasarku yang tak bisa tenang, kadang-kadang aku bandel, mencuri-curi waktu membersihkan kamar mandi atau membereskan rumah ketika suamiku ke kantor. Padahal bergerak berlebihan sangat tidak dianjurkan oleh dokter kandunganku karena itu akan memperparah terjadinya flek. Supaya tidak terlalu membosankan, kusempatkan menulis beberapa paragraf sambil duduk ditopang bantal di punggung atau membaca ulang beberapa novel koleksiku.
Namun yang namanya hidup tanpa pembantu, sesungguhnya aku tak bisa benar-benar beristirahat. Nabila yang baru tiga tahun tentu juga harus kuperhatikan kebutuhannya. Toh aku masih harus mondar-mandir untuk memandikan Nabila, membantunya membersihkan diri sehabis buang air besar atau kecil, membikinkannya susu, dan juga meladeninya bermain atau bercanda. Namun jika kondisiku sedang tidak memungkinkan, aku menyuruhnya bermain sendiri sambil menunggu papanya pulang kantor atau menemaninya menonton kartun di notebook sambil aku tiduran. Tak jarang dia memprotesku. “Mama tuh bangun, sudah siang”, menyuruhku duduk atau berdiri menemaninya bermain. Biasanya aku hanya sanggup meladeninya sebentar karena Nabila lebih suka melakukan permainan-permainan yang bersifat fisik seperti main perang-perangan, kuda-kudaan, atau main bola seperti yang sering dilakukannya dengan papa. Kalau sudah begitu kewalahan begitu, kucoba memberikan pengertian kepadanya dengan bahasa yang sesederhana mungkin bahwa calon adiknya dalam perutku sedang capek ingin tidur. Kukatakan bahwa jam 12 siang nanti papa sudah pulang dan dia boleh bermain sepuasnya dengan papa. Meskipun tidak langsung setuju, tapi jika kutawari menonton Upin Ipin, Aladin, Hello Kitty atau Putri Duyung, Nabila tak menolak.
Untuk urusan dapur dan rumah, aku boleh berlega karena sumiku sangat membantu. Dia sangat mengerti bahwa kondisi kandunganku tidak memungkinkan bagiku untuk menangani pekerjaan angkat-mengangangkat atau berdiri bahkan duduk yang terlalu lama. Jadi, pagi-pagi setelah mandi dan sholat subuh, dia segera mencuci piring dan membereskan dapur. Setelah itu sambil menunggu air di teko mendidih, dia membereskan rumah. Sebegitu air mendidih, segera dia membuat segelas kopi. Cairan hitam kental berkafein itu menjadi minuman wajib baginya dipagi hari. Setelah bersantai sejenak sambil menikmati kopi panasnya, tergantung jadwal mengajar, suamiku membikinkan sarapan.
Tergantung jadwal, jika tak ada kewajiban mengajar di pagi hari, dia membuat sarapan sekaligus makan siang beserta lauknya. Karena oleh dokter aku dilarang mengkonsumsi makanan yang pedas atau merangsang perut, maka biasanya dia membikinkanku menu sederhana yaitu terdiri dari sayur bayam bening dengan lauk tempe. Terus terang, menu ini sangat tidak menggugah selera makan. Namun dikarenakan aku harus benar-benar menjaga menu makananku, dan bayam merupakan sayuran yang banyak mengandung zat besi yang sangat dibutuhkan oleh ibu hamil untuk memenuhi gizi janin dalam rahim, maka aku tak bisa banyak memprotes. Sedangkan Nabila sendiri ternyata sangat menyukai olahan sayur bayam bening hasil masakan papanya. Jika pagi-pagi sekali jam delapan suamiku harus mengajar, maka dia bikinkan sarapan roti bakar dengan isian meses coklat. Diantara menu sarapan, kupasan uah apel fuji yang renyah manis dan dipotong kecil-kecil menjadi penetralisir perutku.
Kalau dihitung-hitung, masa royanku sudah hampir seminggu lebih. Pada awal-awal masa istirahat, papanya Nabila memang agak kesukaran untuk menemukan irama pengaturan jadwal pekerjaan rumah tangga dengan jadwal mengajarnya. Namun kuperhatikan dia cepat menemukan pola pengaturan yang efisien. Mencuci piring hampir selalu dikerjakannya setiap hari sedangkan untuk mencuci baju dikerjakannya seminggu sekali atau dua kali. Kadang-kadang jika Nabila mau ditinggal bermain sendiri, aku nekat merendam pakaian-pakaian yang kecil dan mencucinya pelan-pelan sekali sambil duduk berselonjor di bangku plastik kecil. Siang ketika suamiku pulang, cucian itu siap untuk dijemurnya. Aku rasa itu cukup membantu mengurangi banyaknya volume cucian yang biasanya hanya dicuci ketika hari minggu. Untuk urusan memasak, suamiku cepat belajar. Hanya sekali saja dia menanyakanku tentang resep beberapa menu yang sering kubuat, lain hari dia sudah bisa mempraktekannya tanpa kembali bertanya. Hanya saja, entah untuk alasan kepraktisan atau untuk menghindari keribetan, dia lebih sering menyajikan menu-menu yang sederhana dalam hal bumbu maupun cara pengolahan. Itupun sudah sungguh sangat kusyukuri. Malahan aku bangga dan terharu karena sebagai suami, dia tidak gengsi atau malas membantu istrinya dalam hal mengurus pekerjaan rumah tangga sebab sudah kulihat sendiri dalam lingkunganku, tak banyak suami yang mau turun tangan langsung mengambil alih pekerjaan rumah tangga disaat si istri berhalangan mengerjakannya karena sakit atau sesuatu hal lain.
Bersama suami, aku telah mempersiapkan mental kalau-kalau terjadi sesuatu hal dengan kandunganku. Kusatir kalimat klise “Manusia boleh berencana, namun Tuhanlah yang menentukan”. Kami mempunyai impian indah menimang calon adiknya Nabila. Sebagai ibu, tentulah aku berharap kandunganku akan sehat dan baik-baik saja seperti yang kualami pada kehamilan yang pertama. Namun tak bisa dipungkiri, ada banyak faktor dan resiko yang harus kami pertimbangkan jika saja aku harus beristirahat panjang apalagi kalau harus mondok di rumah sakit. Aku tak hendak mendahului rencana Tuhan, namun apapun yang akan terjadi, aku sudah ikhlas, sudah sakmadyo. Kuanggap apapun yang bakal terjadi sebagai sebuah rencana baik Tuhan untuk kami sekeluarga. Tak ada kecewa.
Jambi 1 April 2011