Perjalanan mudik lebaran kali ini agak berbeda dari tahun lalu. Tahun lalu kami sekeluarga mudik ke Rembang, Jawa Tengah. Aku dan Nabila menempuh jalur udara lewat Semarang sedangkan suamiku menempuh jalur darat dengan menumpang mobil teman yang kebetulan juga mudik ke Kuningan Jawa Barat. Pulang ke Jambi, kami bertiga memilih untuk naik bus, menempuh perjalanan 2 hari 2 malam dari Jogja. Pengalaman yang baru untukku yang belum pernah menempuh perjalanan ke luar pulau Jawa melalui jalur darat, ditambah membawa Nabila yang waktu itu masih berumur 9 bulan Bukan perjalanan yang mudah, tapi memberi nuansa baru perjalanan liburanku.
Libur lebaran tahun ini, kami mengunjungi Papa ke Palembang. Sebenarnya, sudah sering kami pergi ke Palembang dan selama ini tak ada yang istimewa karena selama perjalan ke Palembang naik travel, kerjaku cuma tidur aja, sebab kalau tidak, aku pasti bakalan mabuk darat. Yang membuat perjalanan ke Palembang kali ini sedikit lain adalah……kami memilih untuk menempuh jalur darat dengan menggunakan angkutan roda dua alias bersepeda motor ria. Rencananya…hanya suamiku saja yang akan pergi naik motor dengan pertimbangan saat lebaran nanti saudara-saudaranya bakal ngumpul semua sedangakan di Palembang hanya ada satu kendaraan saja jadi susah kalau mau pergi kemana-mana (selain alasan berhemat). Tapi karena aku khawatir dia menyetir motor sendirian dan nantininya ga ada yang ngingetin kalo ngantuk atau capek di jalan, maka dengan membaca Bismillah, kuputuskan untuk turut serta. Maka jadilah kami Aku, Nabila, dan Papa Nabila) menempuh perjalanan sejauh 270 km dari Jambi ke Palembang. Perjalanan yang seharusnya hanya memakan waktu 5 jam jika naik mobil, kami tempuh dalam waktu hampir 8 jam. Itu sudah termasuh waktu untuk berhenti istirahjat dan mengisi bahan bakar, juga berhenti karena hujan. Memang menegangkan tetapi juga sekaligus menantang dan membuat penasaran. Sepanjang jalan dari kabupaten Muaro Jambi yang merupakan daerah perbatasan propinsi Jambi dengan Sumatera Selatan, Bayung Lencir, Sungai Lilin, Betung, Balai, Palembang tak sedetikpun mataku terpejam. Kuresapi benar pemandangan di sepanjang jalur lintas Sumatera yang berkelok-kelok dihiasi hutan sawit dan karet nan teduh dan hijau di kanan kiri jalan, seperti gambar wallpaper yang sering kuliihat di komputerku. Sungguh berlainan betul dengan jalur Blora-Cepu yang dihiasi hutan jati gersang kering keronta karena dijarah tangan-tangan penebang kayu liar yang tak bertanggung jawab.
Anyway, sampai di SPBU Betung sekitar pukul 10 pagi, kami beristirahat agak lama di masjid yang terletak di bagian belakang SPBU. Selain untuk mengistirahatkan pantat yang sudah sangat-sangat puegel, sekalian menyuapi Nabila yang memang sudah lewat waktunya sarapan, jadi breaklunch sekalian. Kesempatan itu juga tak dilewatkan Nabila untuk bermain sebentar mengeksplorasi sekitar masjid. Waktu itu juga kumanfaatkan untuk sedikit berolah raga mengusir pegal di punggung karena harus menggendong Nabila dan seklaigus men-cangklong ransel di punggung. Sekitar 30 menit kemudian kami kembali melanjutkan perjalanan.
Sepanjang 270 km itu, tak jarang kulihat rumah-rumah penduduk di pinggir hutan. Dindingnya terbuat dari kayu seadanya dengan atap daun kelapa kering. Rumah-rumah gubuk panggung itu ….beserta penghuninya….dan anak-anak mereka yang masih ingusan…dengan baju yang seadanya…….. sarana mck yang juga seadanya ……….Hhhhhhhhhhhhh………….. membuatku lidahku kelu. Pikiranku melesatkan kata tanya yang tak habis-habisnya, mereka-reka jawaban. Apakah anak-anak itu cukup gizinya?. Apakah mereka minum susu formula?. Dengan apa mereka makan hari ini?. Apakah mereka punya keinginan untuk membeli baju baru di hari lebaran nanti?. Apakah mereka tidak takut kegelapan di malam hari?. Apa yang mereka kerjakan di siang hari ?. Bagaimana mereka tahu jadwal imsak dan buka ketika puasa?. Apakah mereka bahagia? atau Apakah mereka juga sesusah seperti apa yang kulihat dari keadaan gubuk mereka?. Tanya, tanya, dan tanya. Aku jadi malu sama Tuhan. Harusnya aku lebih bisa bersyukur dengan segala apa yang telah diberikan oleh-Nya. Hhhh…….semua nuansa itu, kudekap, kurangkum dalam dzikir di hati. Kucium kepala Nabila yang tertidur pulas dalam gendonganku, kupeluk lebih erat. Subhanallah….betapa Allah menyayangi hambaNya. Tapi hambaNya lah yang terkadang kurang bersyukur atas segala rahmat yang telah dilimpahkan-Nya.
Memasuki kilo ke 48 mendekati perbatasan Palembang, hujan rintik-rintik menyejukkan perjalanan siang itu. Tetap saja kami harus berteduh, di sebuah masjid yang sedang di rehab. Kami disambut hangat warga yang kebetulan sedang bergotongroyong memperbaiki lantai teras masjid. Dengan kekeluargaan salah seorang bapak yang sudah baya menyilahkan kami memasuki masjid dan dengan hangat menayakan asal dan tujuan kami. Tentu saja mereka geleng-geleng kepala melihat kenekatan membawa Nabila yang masih 1 tahun 8 bulan kami ajak serta mudik naik sepeda motor. Ketika hujan reda dan kami pamit untuk melanjutkan perjalanan, bapak-bapak itu dengan tulus mengingatkan kami supaya hati-hati di perjalanan.
Alhamdulillah, pukul 14.30 akhirnya kami tiba di rumah Yayi.