Beninglarashati’s Weblog

Unspoken words….just write it down!

Arsip untuk November, 2008

mmmmmm……………….

Ditulis oleh beninglarashati di/pada November 25, 2008

mmmmmm….ga tau nih mau nulis apa. Buntu.

Ditulis dalam Uncategorized | Leave a Comment »

Monday Morning………….and all the stuff

Ditulis oleh beninglarashati di/pada November 24, 2008

I surrender. My husband suggestion was right. I have to rearrange my teaching schedule at Monday morning. It’s been six weeks and I finally realize that I can’t go to office on time since Nabila’s nanny can’t arrived on time plus Nabila can’t leave without carrying her with me. What a messy. Fortunately, there is an empty schedule on Friday morning. Now, I not need to worry being late again.

Ditulis dalam Uncategorized | Leave a Comment »

Materi KB 4

Ditulis oleh beninglarashati di/pada November 18, 2008

Ditulis dalam Kecerdasan Buatan | Leave a Comment »

Ketika Korean Day di Hall FTSP UII

Ditulis oleh beninglarashati di/pada November 8, 2008

Ketika mengkorek-korek file foto, tak sengaja aku menemukan file fotoku ketika ada Korean Days di FTSP UII pertengahan 2006 lalu. Waktu itu aku masih bekerja di unit dekanat FTSP UII. Lumayan bisa foto-foto bareng mahasiswa Korea yang ternyata……bahasa Inggrisnya pas-pasan banget. Kebetulan waktu itu aku lagi kecanduan DAE JANG GEUM. Seneng banget bis foto-foto pake HANBOK, pakaian tradisional khas korea and nyicipin KIMCHI yang dimasak asli dari tangan-tangan mahasiswa korea. Mmmmmhhhhh……………….rasanya seperti dream comes true gitu. Inilah beberapa fotoku yang sedang mejeng sama Jung dan David. Cheeerrrrsss……………………………………………….

i lov u Jang GeumSama mbak Desiwith-davidHai

Ditulis dalam Uncategorized | Leave a Comment »

Ketika Nabila Sudah Besar, …….Papa

Ditulis oleh beninglarashati di/pada November 8, 2008

Menunggu saat ……….

Ketika merengkuh tubuhnya yang mungil.

Jemarimu dalam genggaman jemarinya yang kecil.

Melihat kedalaman matanya sebening embun pagi.

Mendapati sebagian dirimu di dirinya,

Dan sebagian kekasihmu di jiwanya.

Perpaduan yang tak pernah terbayangkan.

Sempurna, elok, dan mengharukan.

Menyadari…………..

Sepuluh, duapuluh tahun ke depan,

Menjaga dan mengiringi langkahnya dengan doa.

Dan engkau tak muda lagi,

Duapuluh tahun setelah itu, sepertinya harus siap berpisah.

Merelakan tahun-tahun mendatang tanpa nyata hadirnya.

Hanya dapat mengirimkan selayang doa dari kejauhan samudera.

Berharap segala nasehat akan selalu teringat.

Kemudian dia akan terbang,

mengarungi cakrawala kehidupan dengan sayapnya sendiri.

Dan yang tertinggal hanya memori akan semua tangis dan tawa,

Segala yang telah dilalui bersamannya.

Menyisakan rindu dan airmata sendu.

Semoga Nabila menjadi anak yang Nuha Khairunnisa,

dunia dan akhirat

Amien…………………..

Ditulis dalam PUISIKU | Leave a Comment »

Tragedi tengah malam (tulisan ketinggalan)

Ditulis oleh beninglarashati di/pada November 8, 2008

Jambi, 31 Mei 2007

Jam sudah menunjukkan pukul 23.55, teman-teman kosku sepertinya memang hendak memecahkan kesunyian malam ini dengan bergurau sampai terbahak-bahak. Padahal ini sudah hampir tengah malam dan bukan malam liburan. Suara mereka terdengar jelas sampai kamarku yang terletak paling belakang dekat dapur. Aku mematikan lampu dan membenamkan kepalaku di bawah bantal untuk meredam kebisingan suara mereka. Ingin rasanya aku keluar kamar dan menyuruh mereka diam. Tetapi aku mencoba untuk bersabar sambil berdoa dalam hati supaya Tuhan mengingatkan mereka kalau ini sudah tengah malam dan suara tertawa mereka sangat mengganggu. Aku tidak ingin mencari masalah dengan mereka. Toh mereka sudah besar-besar dan harusnya….harusnya mengerti tata kesopanan bermasyarakat. Semenit dua menit, rasanya telingaku tersiksa sekali, suara tertawa mereka tidak berhenti-henti juga, malahan semakin menjadi-jadi. Ini tak bisa dibiarkan. Aku juga bayar di kos ini dan aku juga berhak untuk beristirahat dengan nyaman dan tenang, aku harus bertindak. Baru saja aku akan beranjak dari tempat tidur tiba-tiba aku mendengar seseorang membuka grendel pintu dengan keras dan berteriak-teriak dengan nada memaki. Suaranya jelas dari rumah di seberang, suara wanita sedang mengomel. Sejenak kemudian suasana hening, terdengar langkah kaki bergedebuk masuk kamar sambil mengikik menahan tawa. Kudengar suara teman-temanku berbicara berbisik-bisik di salah satu kamar di sebelahku. Telingaku langsung waspada. Kudengar wanita di seberang mengakhiri omelannya dengan menutup pintu keras sekali, teman-temanku masih ramai berbisik-bisik di salah satu kamar. Aku tidak peduli. Kutarik kembali selimutku dan Alhamdulillah, akhirnya aku bisa tidur dengan tenang.

Paginya teman-teman ribut menceritakan kejadian tadi malam. Rupanya nyonya rumah di depan marah karena suara bergurau teman-temanku sampai membangunkan tidur anaknya yang masih kecil. Memang jarak rumah kosku dengan tetangga depan cukup dekat, hanya dibatasi jalan setapak yang hanya muat untuk satu mobil. Teman-temanku tidak terima dimaki-maki karena berbuat keributan malam tadi, mereka malah menuduh nyonya rumah seperti anak kecil dan dan tidak etis sudah meneriaki mereka dari depan rumahnya. Dalam hati aku justru berterima kasih pada nyonya rumah itu. Aku hanya senyum-senyum saja mengomentari mereka. Percuma saja berbicara pada keledai yang tuli. Sejak malam itu, jelas sekali teman-teman kosku memasang wajah anti kepada tetangga depan, begitu juga sebaliknya. Tapi aku yang tidak ikut-ikutan ini tak luput dari tatapan sinis si nyonya rumah. Ah bodo amat…….Tuhan maha tahu apa yang terjadi malam itu. Aku tak terlalu ambil pusing.

Ditulis dalam Diary | Leave a Comment »

Si “Mbah”

Ditulis oleh beninglarashati di/pada November 8, 2008

Umurnya sudah sekitar 60 tahunan, rambutnya….seluruhnya telah kelabu, giginya juga tak lagi utuh. Kulitnya telah keriput tapi tubuhnya masih tegap dan kuat. itulah “Mbah”, begitulah aku memanggilnya sehari-hari, beliau adalah pengasuh Nabila, putriku yang saat ini berusia 9 bulan. Tak hanya mengasuh Nabila, si Mbah masih kuat mencuci baju dan menyeterika pakaian kami sekeluarga. Mbah lahir dan besar di Jambi, tapi kedua orang tuanya adalah transmigran asal jawa. Maka sehari-hari aku menggunakan bahasa Jawa untuk berkomunikasi.

Dikala senggang, aku suka sekali mendengar cerita hidupnya. Tentang bapaknya yang hanya seorang petani penggarap sehingga mereka sekeluarga sering berpindah-pindah tempat. Dimana ada sawah atau ladang yang bisa digarap, disitulah mereka menetap. “Saat itu jaman susah”, kata si Mbah. “Bahan pangan susah, jadi bapak saya bertani untuk memenuhi kebutuhan makan sekeluarga”, lanjutnya. Mbah juga bercerita tentang pengalamannya hampir tenggelam pada umur 5 tahun ketika ikut bapaknya mencari ikan di sungai. Mbah menceritakannya dengan rinci. Untung waktu itu dia bisa diselamatkan. Sungguh pelangalaman yang tak bisa beliau lupakan sampai sekarang. Memang, pengalaman traumatis selalu membekas dalam ingatan anak-anak.Juga ada cerita tentang keluarga besarnya, tentang situasi kota Jambi pada waktu pendudukan Jepang (waktu itu Mbah masih berumur tujuh tahunan), juga tentang pemberontakan PKI di Jambi pada tahun 1965. Mbah memang sudah sepuh, tapi ingatannya masih tajam. Mbah adalah orang yang sederhana. Tak ada keinginannya yang muluk-muluk di dunia ini kecuali kesehatan serta kehidupan yang lebih baik bagi anak, cucu, serta cicitnya kelak.

Mbah senang sekali menonton berita (dan acara wisata kuliner Pak Bondan mak nyuss). Segala sesuatu yang terjadi di tanah air Indonesia belakangan ini tak luput dari perhatiannya. Kasus pembunuhan berantai Ryan, kasus suap jaksa Urip dan korupsi Al Amien Nasution, maraknya peredaran daging gelonggongan dan daging sampah sisa hotel, pembantu yang memutilasi majikannya, serta kasus kriminal lain, menjadi topik yang kami diskusikan waktu menonton TV. “Jaman edan, dunia mau kiamat karena sudah terjadi perang Bharatayudha, perang saudara”, kata Mbah saat kami menonton siaran berita yang menampilkan tragedi perseteruan antara FPI (Front Pembela Islam) dan AKBB (Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan) yang berbuntut insiden MONAS tanggal 1 Juni 2008 lalu. Dulu orangtuanya pernah bercerita, kalau di dunia ini sudah banyak terjadi perang Bharatayudha yaitu perang antar saudara (baca kisah Mahabarata), maka tandanya dunia sudah mendekati kiamat.

Mungkin benar apa yang dikatakan Mbah. Lihatlah wajah Indonesia saat ini, bencana ada dimana-mana, perselisihan antar penduduk tak pernah berhenti diberitakan di TV. Rusuh antar pendukung calon gubernur di pilkada serti menjamur dimana-mana, cermin ketidakikhlasan hati, katanya demokrasi tapi ga sportif.

Begitulah si Mbah, keuzuran tak mengurangi kepekaannya akan hidup ini. Mbah memang hanya pengasuh Nabila tapi bagiku beliau sudah seperti nenek sendiri. Mbah boleh tak mengecap pendidikan tinggi di masa hidupnya tapi beliau belajar dari hidup ini dan kebijaksanaan yang beliau dapat tak kan pernah kita dapatkan di sekolah tinggi manapun. Apalagi, beliau sudah bekerja hampir sepanjang hidupnya, sejak umur empat belas tahun. Aku berdoa kepada Yang Maha Pengasih, semoga Mbah selalu sehat dan juga kumohonkan keselamatan bagi seluruh keluarganya. Semoga beliau masih bisa mendampingiku mengasuh Nabila di masa yang akan datang. Amien

Ditulis dalam Ceritaku | Leave a Comment »

Materi KB 3

Ditulis oleh beninglarashati di/pada November 8, 2008

Ditulis dalam Kecerdasan Buatan | 1 Komentar »

Kyaaaaaaa……..akhirnya dapet juga

Ditulis oleh beninglarashati di/pada November 7, 2008

Horeeee….akhirnya dapet download-an albumnya Anggun “ELEVATION” yang versi Inggris. Jadi lengkap nih, ada versi inggris dan perancisnya. Maaf ya mbak Anggun, bukan bermaksud merugikan. Tapi yang versi perancis ini dijamin kalo di Jambi ga kan ada yang ngerti. Untuk yang versi inggris ga di publish deh alamatnya…….he…he….Jaya buat mbak Anggun

Ditulis dalam Uncategorized | Leave a Comment »

Not Every Woman 2 (curahan hati papa)

Ditulis oleh beninglarashati di/pada November 4, 2008

Papa numpang nulis

Sudah tiga minggu aku menjalani rutinitas kuliah pra-s2, jauh dari keluarga (Mama dan Nabila) membuatku merasakan suatu yang berbeda dalam menjalani rutinitas harianku. Keinginan yang kuat dari seorang wanita yang kusayang untuk memberikan dorongan kepadaku agar melanjutkan pendidikan S2 di Yogyakarta, merupakan suatu nilai yang menurut kebanyakan orang adalah hal yang disayangkan, sekaligus menegakan. Bagaimana tidak, istriku yang seorang Jawa yang baru sekalinya merantau ke Jambi, jauh dari keluarganya dan harus beradaptasi dengan perbedaan budaya Sumatera yang mencolok, putriku masih berumur 9 bulan, dan mereka harus berpisah sementara waktu denganku. Hampir genap 2 tahun aku dan dia telah berumah tangga, namun dengan situasi sekarang yang seperti ini, dia harus mengalami lagi berjuang dalam kesendirian bersama putri kami, Nabila, dan si “Mbah”, pengasuh Nabila.

Pertimbangan untuk melanjutkan sekolah di Jogja dengan aku sebagai kepala keluarga bukanlah keputusan yang mudah. Banyak resiko yang harus dipikul sebagai konsekuensi dari keputusan ini dan harus dicari solusi sebijak mungkin. Faktor yang paling memberatkan untuk tidak melanjutkan sekolah ke Jogja saat itu adalah kesendirian istriku untuk mengasuh,merawat,mendidik putri kami dengan kasih sayang penuh ditambah padatnya rutinitas istriku sebagai seorang dosen, serta pekerjaan rumah tangga lainnya. Ya….memang ada alternatif logis yang dapat dipertimbangan dan dapat diterima banyak orang yaitu aku melanjutkan sekolah di Padang sehingga aku masih bisa berkumpul dengan keluarga. Namun sekali lagi keputusan untuk sekolah di Padang, mentah tak tergubris oleh cara berpikir istriku yang berkeinginan kuat supaya aku melanjutkan sekolah di Jogja. Dalam kondisi seperti ini aku begitu terharu, kagum, bangga, dan beruntung memiliki istri seperti dia. Bagaimana tidak,…. dia begitu merelakanku untuk meninggalkannya dan Nabila serta mengenyampingkan perjuangan, pengorbanan perasaan, tenaga dan lainnya yang akan dia hadapi dalam kesendirian. Demi aku….. agar mendapatkan pendidikan yang lebih berkualitas.

Hari ini minggu tanggal 2 November 2008, aku mengikuti pengajian di pondok pesantren Raudhatul Muttaqien di Babadan, Purwomartani, Kalasan, Sleman, Yogayakarta yang cukup jauh dari tempat kos. Selama lebih kurang 2 jam dari jam 09.00 – 11.00 pagi aku mendengarkan materi dan diskusi pengajian dan berusaha untuk hikmat dan berkonsentarasi mendengarkan dan memahami materi dan diskusi yang berlangsung. Karena aku adalah jamaah baru, maka aku masih harus beradaptasi dengan lingkungan pengajian sehingga masih belum bisa berkonsentrasi penuh. Sedikit dari materi dan diskusi yang berlangsung tidak kuperhatikan dikarenakan secara spontan datang lamunan tentang lingkungan sekitar yang mengusik kosentrasiku. Pada pagi itu materi dan diskusi disampaikan oleh Bapak Hamdani Bakran Adz-Dzakiey, seorang praktisi tasawuf, konselor, psikoterapis. Beliau dilahirkan di Balikpapan, 3 Mei 1960. Alumnus Syariah IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta ini juga berprofesi sebagai pengajar di beberapa perguruan tinggi di Yogyakarta dan Surakarta sekaligus sebagai pendiri dan pengasuh pondok pesantren Raudhatul Muttaqien. Pengajian ini sendiri dihadiri oleh lebih kurang 30 – 40 jamaah yang kebanyakan dari kalangan mahasiswa. Disampingku adalah teman satu kos yang sebelumnya telah rutin mengikuti pengajian setiap minggu pagi dan dari dialah aku mendapatkan informasi bahwa ada pengajian di pondok pesantren tersebut. Pagi itu materi dan diskusinya cukup mengagetka Yang terbayang dalam benakku adalah sebuah pengajian yang membahas hal-hal klasik. Tapi setelah diberikan pengatar oleh Bapak Hamdani bahwa pagi ini materinya adalah “Bagaimana perilaku manusia merubah perilaku alam”, dalam hati aku bergumam, “wah….penjabaran bisa panjang nih”.

Dalam pengajian itu lebih menjurus bagaimana kita mengetahui peta kehidupan kedepan dan bagaimana kita menyikapi dan berprilaku. Beliau juga banyak mengaitkan dengan ketauladanan Nabi Muhammad Saw dan Siti Khadijah. Ada tiga hal penting yang menjadi catatan bagiku untuk berprilaku/bersikap menghadpi kehidupan kedepan yang perlu disiapakan seperti apa yang disampaikan bapak Hamdani, yaitu : 1) Menjaga kesehatan fisik, point pertama ini memang banyak disepelekan oleh banyak orang, 2) Menjaga kesehatan mental. Diantaranya mental kegigihan dan keberanian, mental kesabaran, mental bersikap berprilaku dan berpenampilan Point kedua ini juga banyak yang tidak dimiliki orang; 3) Menjaga kesehatan spiritual. Disini dituntut konsistensi kita dalam beribadah kepada Yang Maha Kuasa. Point yang terakhir ini juga sangat mudah untuk disepelekan dan ditinggalkan kebanyakan orang. Sebagai contoh yang biasa terjadi dilingkungan kita, betapa banyak diatara kita begitu mudah dan ringanya untuk meninggalkan ibadah sholat. Beliau juga mengatakan apabila ketiga hal tersebut terjaga “kesahatan” nya maka insyaallah kesehatan finansial pun akan mengikuti.

Dari materi dan diskusi yang berlangsung ada beberapa penyampaian dari Bapak Hamdani mengenai perjuangan, pengorbanan seorang istri sepeti yang dilakoni oleh istri baginda Nabi Muhammad Saw, Siti Khadijah. Disini aku teringat dengan apa yang terjadi denganku dimana istriku dihadapkan pada suatu nilai-nilai pengorbanan yang harus dia lakukan dalam kehidupannya bersamaku, dalam kesendiriannya saat ini. Aku mendapatkan sedikit benang merah dari misteri kehidupan yang kulalui bersama istriku. “Istriku yang kusayang,………… betapa besar pengorbanan yang telah engkau lakukan untukku dan anakmu hingga sekarang dan selamanya, semoga Allah SWT selalu menjaga dan bersamamu serta mendapatkan rahmat dan hidayah-Nya,Amin”.

Bersambung…………………………………………….

Ditulis dalam Ceritaku | 2 Komentar »